HUMAS (PUBLIC RELATIONS)

 

Humas (Public Relations) dan citra korporat

 

Medco Energi, yang pemiliknya saat itu juga seorang anggota legislatif, empat tahun lalu memboyong puluhan anggota DPR dari berbagai fraksi untuk menghadiri peluncuran rig Medco yang ke 16 di galangan kapal Keppel, Singapura. Peristiwa ini mendapat liputan luas dari media nasional dan asing, menyadarkan publik akan prestasi perusahaan lokal dalam menembus bisnis pertambangan yang sangat padat modal.

                  Event di atas adalah satu praktik kehumasan atau public relations yang kerapkali didefinisikan sebagai ‘upaya organisasi secara terencana serta berkelanjutan dalam membangun dan menjaga goodwill serta saling pengertian antara organisasi dengan publiknya: pelanggan, karyawan, pemegang saham, asosiasi dagang, pemasok, pemerintah dan seluruh lapisan masyarakat pada umumnya.’ Manajer penanggung-jawab kehumasan bertugas mengkoordinasikan seluruh aktivitas yang menghadapkan perusahaan dengan publik dan mengelola aktivitas-aktivitas sebagaimana yang tertulis di bawah ini:

o     mengatur jumpa pers

o     workshop pelatihan staf;

o     acara-acara seperti makan malam tahunan;

o     menangani kritik ataupun komplein yang masuk;

o     mengatur manajemen senior untuk muncul di TV atau pers;

o     pemasaran internal, mengarahkan budaya organisasi menuju budaya yang berorientasi pada pelanggan.

                   Rute pokok operasi humas adalah komunikasi getok tular (word of mouth), artikel pers (press and news stories) dan rekomendasi personal. Tujuannya adalah, untuk menempatkan perusahaan dan produknya dalam memori serta pembicaraan masyarakat dalam artian positif. Karena informasi muncul dalam bentuk berita, maka informasi ini memiliki bobot yang lebih. Humas tidak beriklan, karena mereka tidak dibayar untuk melakukannya secara langsung (walau biasanya memang ada anggaran untuk membayar seseorang agar menulis siaran pers dan juga berita). Iklan bisa bersifat informatif dan juga persuasif, namun humas digunakan untuk menyampaikan informasi saja dan tentu saja hal ini tidak bisa disebut sebagai ‘iklan gratis’ karena anggaran untuk ini juga tidak bisa dikatakan sedikit. Berikut ini adalah contoh-contoh aktivitas humas yang menarik:

o       Sebuah siaran pers menyatakan bahwa perusahaan sudah berhasil mengembangkan cara untuk mendaur ulang sampah dari TPA untuk dijadikan plastik.

o       Perusahaan mensponsori acara olahraga atau acara amal besar (misalnya konser musik Peduli Aceh sponsor proyek bantuan bagi korban bencana tsunami).

o       Sebuah pengumuman bahwa pimpinan perusahaan sudah meraih dukungan untuk menjalankan sebuah program pemerintah dalam penciptaan lapangan kerja secara masif.

o       Body Shop meminta seluruh operasi waralabanya melakukan proyek yang bisa memberi benefit pada masyarakat sekitarnya. Hal ini ikut membangun citra korporat positif di mata masyarakat dan juga memberi kebanggaan tersendiri pada para karyawan bahwa mereka bekerja di perusahaan yang begitu peduli.

o       McDonald’s meredam publisitas negatif dari kelompok pecinta lingkungan dengan menjalankan aktivitas patroli kebersihan di luar restauran.

                  Kesamaan contoh-contoh di atas adalah kelayakannya untuk dijadikan berita serta sisi-sisi menarik yang bisa digali darinya, kasus-kasus itu menempatkan perusahaan di posisi terhormat dan memicu orang-orang untuk membicarakan perusahaan secara positif.

                  Siaran pers yang bagus bisa berfungsi lebih efektif ketimbang iklan, karena alasan-alasan berikut ini:

1.      Ulasan pers tidak membutuhkan biaya, jadi anggaran promosi bisa dialihkan pada keperluan lain yang lebih bermanfaat.

2.      Pesan memiliki nilai kredibiltas yang jauh lebih besar, karena merupakan bagian isi koran koran/ majalah.

3.      Pesan hampir pasti akan dibaca, karena pada umumnya tujuan pembaca membeli koran adalah  untuk membaca beritanya, jadi mereka cenderung melewati bagian iklan begitu saja.

                  Seperti manusia, organisasi juga memiliki berbagai kebutuhan; strukturnya dikembangkan oleh Pearson (1980). Humas sangat membantu dalam memenuhi seluruh kebutuhan organisasi, khususnya kebutuhan yang berada di dekat puncak hierarki. Tabel berikut menunjukkan hierarki kebutuhan organisasi menurut Pearson, dimulai dari tingkat terendah, yaitu kebutuhan paling mendasar, hingga tingkat kebutuhan yang lebih tinggi.

 

Tabel Hierarki kebutuhan organisasi

 

Kebutuhan organisasi

Persyaratan

Aktivitas Humas umumnya

Output

Uang, mesin, tenaga kerja, bahan-bahan

Program staf guna menarik orang-orang yang tepat

Survival

Arus kas, laba, kinerja saham, pelanggan

Publisitas pada pelanggan; even-even publikasi perusahaan dan produk

Morale

Kepuasan kerja karyawan

Media berkala intern, aktivitas untuk meningkatkan morale

Acceptability

Kesepahaman dari para pemangku kepentingan (pemegang saham, pemerintah, pelanggan, rekanan, masyarakat umum)

Humas eksternal, laporan bagi pemegang saham, lobi parlemen dan pemerintahan, even-even bagi pemasok dan pelanggan, siaran pers

Leadership

Memiliki posisi terhormat dalam bidang yang  dipilih perusahaan: bisa berupa kepuasan pelanggan, keterlibatan karyawan, keunggulan teknologi dalam industri atau kombinasinya

Pembangunan citra korporat, aktivitas peduli pelanggan, publisitas atas  produk baru dan inovasi teknologi, menjadi pihak sponsor untuk riset di berbagai universitas, mensponsori aktivitas seni.

 

                  Sebagaimana hierarki milik Maslow, hierarki Pearson ini sangat berguna sebagai konsep, namun sebagai panduan praktis banyak organisasi menyimpang dari urutan ini dalam memenuhi kebutuhannya. Misalnya, Sony Corporation yang dibentuk Akio Morita (beserta lainnya) setelah perang dunia kedua, para direktur memutuskan bahwa kesatuan korporat dan keterlibatan pekerja harus sudah dimulai sejak hari-hari pertama, pada saat itu (karena kendala-kendala pasca perang) perusahaan menemui kesulitan mendapatkan bahan baku serta pabrik yang akan dioperasikan. Morita mengatur agar semua pekerja tanpa kecuali mengenakan seragam perusahaan, sehingga perbedaan antara pihak pimpinan dan pekerja tak begitu mencolok dan agar dunia luar menangkap kesan positif atas perusahaan. Lagi pula, hal ini juga mengandung aspek praktis – banyak pegawai hanya memiliki pakaian yang sobek-sobek atau sisa-sisa seragam militer mereka, jadi Morita mampu meraih loyalitas karena banyak pegawainya memang benar-benar tidak punya pakaian layak pakai kecuali seragam perusahaan mereka.

                  Aktivitas kehumasan meliputi rentang issu yang lebar, namun tidak boleh dianggap sebagai satu-satunya alat publisitas. Humas punya peran tepat untuk menjaga reputasi perusahaan; humas merupakan pemain kunci dalam mewujudkan Relationship Marketing, karena humas lebih berurusan dengan tugas membangun citra positif jangka panjang ketimbang tugas mendongkrak angka penjualan secara kilat. Relationship Marketing acapkali dianalogikan dengan masa pacaran dan perkawinan: humas bertugas membentuk kesan positif sebelum ‘kencan’ pertama dan untuk menjaga hubungan agar tetap baik selama masa ‘pacaran’ dan ‘perkawinan’. Dengan menggunakan analogi ini, humas mesti memastikan bahwa perusahaan terus mengenakan pakaian-pakaian terbaiknya dan berperilaku sebaik mungkin dan selalu mengingat hari-hari khusus, seperti hari ulang tahun sang kekasih.

 

Humas beserta staf

                  Tugas utama humas adalah menyampaikan informasi dan membangun citra perusahaan dan produknya, namun sebetulnya juga menyangkut upaya-upaya untuk membentuk kesan positif perusahaan dalam benak setiap orang. Humas tidak terkait langsung dengan bisnis dan dalam hal ini, humas tidak sama dengan alat-alat lain dalam bauran promosi. Meski humas adalah penanggung jawab atas keseluruhan aktivitas kehumasan, sebenarnya, kehumasan juga merupakan tanggung jawab siapapun yang tugasnya kerap berhadapan orang-orang dari luar organisasi. Orang-orang ini meliputi bagian ‘front-liners’, orang-orang yang tugas sehari-harinya mewajibkan mereka untuk melakukan kontak dengan pihak luar. Misalnya:

·        Resepsionis,

·        petugas penerima telepon,

·        pengemudi truk,

·        staf gudang,

·        staf pelayanan di kantin.

                  Terlepas dari staf humas dan pemasaran, seperti para wiraniaga, yang memang tugasnya mengharuskannya menjalin relasi dengan pihak luar sebagai bagian upaya pemasaran terbuka,   setiap orang dalam organisasi mesti ikut memikul tanggung jawab dalam kehumasan; setiap orang dalam organisasi toh pasti pulang setelah jam kerja selesai (dan membicarakan perusahaan mereka bersama teman-teman atau keluarga mereka).

                  Dalam konteks ini, sebuah pendekatan buruk bagi humas (namun justru umum terjadi) adalah untuk menyewa seseorang yang punya senyum manis dan suara ramah untuk duduk di sebelah telepon dan menangani semua komplein serta mengatasi semua masalah yang timbul. Pendekatan ini tidaklah memadai karena lebih bersifat reaktif dan baru bertindak bak ‘pemadam kebakaran’ bila ada krisis.

                  Pendekatan kehumasan yang lebih baik adalah mendorong seluruh karyawan untuk menilai perusahaan secara positif. Hal ini bisa dilakukan dengan memastikan bahwa tiap orang mengetahui apa yang dilakukan perusahaan, kebijakan apa yang dijalankan serta tujuan, visi dan misi perusahaan. Hampir tidak ada karyawan yang tak akan merasa senang bila mengetahui bahwa mereka bekerja pada organisasi yang peduli, bertanggung jawab dan sukses; tugas humas adalah untuk memastikan bahwa hal-hal di atas sudah disampaikan pada staf. Mereka terkadang memakai slogan atau moto perusahaan untuk merangkum tujuan utama perusahaan. Tabel di bawah ini mengetengahkan sejumlah contoh.

 

Tabel  Slogan Korporat

 

Contoh

Keterangan

We’re number two, so we try harder (Avis) – kita memang nomer dua, jadi kita berusaha dengan lebih keras

Slogan ini mengkomunikasikan pada para staf bahwa perusahaan tergolong perusahaan besar (sebenarnya saat itu Avis belum meraih posisi ke 2), namun upaya mereka untuk ‘berusaha lebih keras’ sudah diidentifikasi dan dihargai. Hal ini juga memberikan citra yang bagus pada pelanggan.

 

Commited 2 U (Telkom) – apapun kami lakukan demi anda

Slogan ini menonjolkan orientasi pada pelanggan yang terus diupayakan   perusahaan; bahwa Telkom tidak hanya mengeruk uang sebanyak mungkin dari pelanggannya, namun perusahaan justru memperhatikan kepentingan mereka.

 

                  Humas Internal memanfaatkan media berkala internal, program pelatihan dan acara-acara sosial untuk menyebarkan citra positif. Karena sebagian besar frontliner bekerja di lokasi yang jauh dari kantor pusat, proses humas mesti ditangani dengan cara persuasif, bukan melalui diktat. Para staf humas tidak mungkin bisa berada di semua tempat pada waktu yang sama atau mengikuti setiap orang untuk memastikan bahwa mereka mengatakan dan melakukan hal yang ‘benar’. Setelah sukses merumuskan visi-misi baru sekaligus memasyarakatkan logo baru Bank Danamon, Arwin Rasyid, presdirnya, meminta konsultan Ogilvy One Worldwide menggarap program komunikasi internal dan eksternal. Arwin, yang sadar vitalnya program ini, getol mendorong upaya ini, khususnya komunikasi internal yang diantaranya dilakukan melalui komik Danamon Kita dan magicub (kubus pengetahuan) yang berisi pertanyaan-pertanyaan menggugah, semacam “Dapatkah Anda mengubah cara berpikir seseorang sehingga mereka tertarik menggunakan jasa atau produk bank yang ditawarkan?” 

 

Humas dan Pers

                  Biasanya, humas eksternal berkomunikasi melalui media massa. Koran dan majalah mendapatkan sebagian besar pemasukan dari pemasangan iklan, namun mereka merangsang minat pembaca dengan mengetengahkan artikel-artikel menarik tentang topik yang menyangkut kesenangan pembaca. Gambar di bawah ini menunjukkan kaitan antara publisitas, humas dan relasi pers. Humas mengisi keseluruhan peran stratejik, sedang publisitas (menciptakan berita) dan relasi pers (memastikan bahwa berita itu dicetak) mengisi posisi taktis.

                  Kerapkali manajer atau pelaku humas merupakan mantan wartawan yang memahami aktivitas apa yang layak berita atau tidak dan mampu menghasilkan siaran pers mengenai perusahaan yang nantinya pasti dipublikasikan. Tabel berikut menunjukkan kriteria pembuatan siaran pers agar bisa dimuat dalam media. 

Gambar  Publisitas, Humas dan Relasi Pers

 

 

STRATEJIK

Humas: membentuk serta menjaga reputasi yang baik dengan publik

TAKTIS

Publisitas: menciptakan kisah berita yang baik tentang organisasi, produk dan aktivitasnya

TAKTIS

Relasi pers: membentuk dan menjaga citra positif dengan media massa

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tabel Kriteria siaran pers yang sukses

 

Kriteria

Contoh

Cerita mesti layak berita, yaitu hal- hal yang menarik minat pembaca

Artikel mengenai harga baru yang lebih murah tidak cukup layak berita; tapi, artikel tentang pembukaan pabrik baru yang bisa menyerap 1.000 tenaga kerja layak untuk diberitakan

Berita tidak boleh hanya sekedar kedok dari iklan tersamar

Cerita mengenai mobil produksi terbaru yang ditawarkan dengan harga terendah di pasar sebesar Rp 97 juta mungkin tidak akan diterbitkan; cerita mengenai mobil produksi pabrik anda yang sukses menjuarai reli safari se Asia Tenggara hampir pasti akan diterbitkan

 

Cerita mesti sesuai dengan gaya isi koran majalah atau koran

Sebuah artikel mengenai kompetisi memancing yang  anda sponsori tidak akan diterbitkan dalam Swa Sembada; namun artikel mengenai perusahaan anda mengambil alih perusahaan pesaing, hampir pasti akan diterbitkan.

                 

Dewasa ini, manajer pemasaran dan humas dituntut bekerja sama, namun mereka tidak selalu sepakat. Manajer pemasaran lebih berorientasi laba, sementara praktisi humas melihat fungsi utamanya adalah menyiapkan dan menyebarkan komunikasi. Perbedaan ini kini terjembatani oleh penerapan marketing public relations (MPR) yang secara langsung mencoba mendukung promosi produk serta pembentukan citra merek dan korporat.  Jadi MPR lebih berfungsi untuk mendukung program pemasaran, sehingga aktivitas-aktivitas MPR harus menjadi bagian atau dipadukan dengan program pemasaran. Misalnya, aktivitas MPR produsen rokok antara lain bertujuan menekan persepsi masyarakat bahwa rokok adalah musuh masyarakat.

Di saat efektifitas iklan massa dirasa makin menurun, belakangan pemasar lebih memalingkan perhatiannya kepada MPR. Mereka menyadari bahwa MPR sangat efektif dalam membangun awareness dan brand knowledge. MPR juga efektif dari segi biaya ketimbang iklan. Yang jelas, PR atau humas yang kreatif bisa mempengaruhi awareness publik dengan biaya sepersekian saja dari biaya iklan.  Perusahaan tak perlu membayar space atau waktu yang disediakan oleh media. Mereka hanya cukup menggaji beberapa staf untuk membuat dan menyebarkan cerita serta mengadakan event-event tertentu. Beberapa perusahaan mensponsori bahkan menamai even tersebut dengan nama produk atau perusahaan, seperti Gebyar BCA, Liga Mandiri, HP Hour, dan Kontes Gadis Tiara Sunsilk. Belanja iklan Starbuck di AS selama 10 tahun terakhir tidak lebih dari $ 10 juta, tapi mampu meraih pendapatan US $ 1,3 miliar per tahun.  Wal-Mart sukses di dunia ritel hampir tanpa iklan, termasuk Sam’s Club yang menghasilkan US$ 56 miliar tanpa iklan sama sekali. Contoh di dunia farmasi, Viagra dan Prozac. Di dunia mainan, Pokemon dan Barbie. Di dunia teknologi, Oracle, Cisco, dan SAP. Semua merek ini menghasilkan miliaran dollar dengan biaya iklan minim.

MPR juga sangat efektif untuk berinteraksi dengan masyarakat lokal dan menjangkau kelompok atau etnis tertentu.  Sementara praktisi humas akan terus membidik publik sasaran melalui media massa, MPR kini justru makin kerap memanfaatkan teknik dan teknologi pemasaran respon langsung (direct-response marketing) agar dapat menjangkau anggota audiens sasaran secara one to one. Humas dan direct-response marketing dapat bekerja sama untuk mencapai tujuan-tujuan berikut:    

o       Menciptakan kegairahan pasar sebelum program iklan dimulai:  Misalnya, kesempatan pengumuman produk baru bisa menjadi peluang untuk menggerakkan publisitas  dan untuk mendramatisir produk.

o       Mengembangkan basis pelanggan inti: Pemasar makin menyadari pentingnya memelihara loyalitas pelanggan, lantaran biaya memelihara satu pelanggan ternyata jauh lebih murah ketimbang menjaring satu pelanggan baru.

o       Menjalin hubungan one-to-one dengan para pelanggan:  Pemasar bisa saja menggunakan hotline telpon atau nomer telpon bebas pulsa, juga Internet, untuk menjalin dan menjaga hubungan dengan pelanggan secara perseorangan.

o       Merubah pelanggan yang puas menjadi pembela (advocate):  Basis data dan profil konsumen dapat menjamin kepuasan konsumen yang secara sukarela berperan sebagai model dan jurubicara produk.

o       Mempengaruhi tokoh berpengaruh :  Influencer bisa saja seorang tokoh seperti guru, dokter, atau apoteker, namun dapat juga seseorang yang memiliki hubungan khas one-to-one dengan konsumen, seperti penata rambut, misalnya.

Jika perusahaan bisa menyodorkan cerita yang menggigit, besar kemungkinan media-media berita akan mencaploknya dan publikasi itu mungkin bisa bernilai sama dengan iklan beranggaran jutaan atau miliaran rupiah. MPR dianggap lebih kredibel ketimbang iklan. Beberapa pakar mengatakan bahwa konsumen lima kali lipat lebih mudah terpengaruh oleh teks editorial ketimbang oleh iklan. 

                  Media massa tentu saja berhak untuk mengubah cerita, membumbuinya, memberi komentar atau merubah sudut pandang cerita untuk memenuhi tujuan mereka sendiri. Perusahaan kadang tak bisa berbuat banyak mengenai hal ini. Karena alasan-alasan inilah, manajer humas mesti mengelola relasi yang baik dengan media. Terkadang hal ini tidak terlepas dari ‘entertainment’ bisnis, namun yang pasti perusahaan mesti melakukan berbagai upaya untuk mempermudah kerja para wartawan. Sebuah siaran pers yang  ditulis dengan baik biasanya akan dimuat media persis seperti aslinya, karena staf redaksi sudah terlalu sibuk tanpa menulis ulang sesuatu yang sudah sempurna.

                  Majalah dan koran pun diuntungkan. Biasanya, redaksi mesti membayar untuk isi koran, entah membayar penulis paruh waktu untuk menghasilkan artikel ataupun menggaji sejumlah wartawan untuk menulis berita yang menarik. Sebuah siaran pers yang bagus jarang membutuhkan begitu banyak ataupun tidak memerlukan editing dan ‘kerja lapangan’ untuk para wartawan, sehingga siaran pers ini akan mengisi tempat dalam koran dan hanya memakan biaya yang sedikit.

                  Staf humas kerap mengatur sebuah media event, misalnya berupa acara peluncuran poduk baru atau pengumuman perubahan strategi perusahaan. Biasanya mereka akan mengundang wartawan, mengatur makan siang dilengkapi acara minum-minum dan mengundang pertanyaan mengenai perkembangan baru yang terjadi dalam jumpa pers. Acara seperti ini hampir pasti berhasil bila fondasi kerja yang cukup kokoh antara keduanya sudah tertanam lebih dulu.

                  Para wartawan cenderung curiga pada media event, terkadang mereka merasa bahwa perusahaan sedang berusaha membeli mereka dengan menyajikan buffet dan minuman enak. Kalau fondasi kerja belum terbina, bisa-bisa mereka mungkin menolak pesan yang humas coba sampaikan secara positif dan bahkan mungkin akan menulis artikel yang kurang menguntungkan perusahaan.

                  Untuk meminimalkan peluang ini, media event mesti memperhatikan sejumlah aturan dasar berikut ini:

1.      Jangan mengadakan media event ataupun jumpa pers, kecuali bila anda mengumumkan sesuatu yang menarik perhatian pers.

2.      Periksa apakah ada konotasi negatif dalam pengumuman anda atau tidak.

3.      Hadirkan sejumlah eksekutif senior perusahaan untuk berbicara pada insan pers, jadi tidak hanya bagian humas saja yang hadir.

4.      Kalau memang perlu, hanya mengundang wartawan yang menurut anda memiliki relasi baik dengan anda.

5.      Jangan terlalu royal dalam menyajikan makanan dan minuman.

6.      Pastikan bahwa ekskutif senior anda atau siapapun yang akan berbicara pada pers, cukup siap atau terlatih untuk melakukannya. Hal ini sangat penting, apalagi bila ditayangkan di layar kaca.

7.      Siap menjawab segala pertanyaan dengan jujur. Wartawan biasanya cukup mampu mengendus kebohongan ataupun penyangkalan.

                  Para wartawan lebih suka bisa berbicara dengan para pimpinan perusahaan yang sebenarnya ketimbang hanya diijinkan untuk berbicara dengan bagian humas; namun, humas perlu memastikan bahwa eksekutif mampu mengatasi hujan pertanyaan. Sangatlah bagus bila anda memiliki bagian pers yang bisa menangani pertanyaan wartawan dengan segera, jujur dan antusias dan bisa mengatur acara wawancara dengan manajemen bila dibutuhkan.

 

Humas dan publik lain

                      Humas berurusan dengan publik perusahaan selain pelanggan, yaitu kelompok-kelompok berikut ini:

  • para pemegang saham, yaitu orang-orang yang akan memperoleh laporan tahunan perusahaan, hak-hak khusus dan sebagainya;
  • pemerintah dan parlemen, yaitu pejabat berwenang yang akan dihubungi perusahaan mengenai perijinan dan perundang-undangan tertentu.
  • para tenaga kerja;
  • kelompok penekan seperti para aktivis lingkungan atau pelobi.

                  Kelompok penekan bisa membawa masalah bagi perusahaan, mereka bisa saja menghembuskan publisitas negatif, memblokir pabrik-pabrik perusahaan atau memboikot produk-produk perusahaan. Hal ini bisa ditangani secara efektif dengan melancarkan ­counter-publicity (publisitas tangkisan). 

                  Terkadang, publisitas yang merugikan yang dihembuskan kelompok penekan bisa dilawan-balik dengan iklan. Misalnya, McDonald’s pernah diserang para aktivis lingkungan karena secara tidak langsung McDonald’s dituduh ikut menghancurkan hutan tropis demi produksi daging sapi murah. McDonald’s meresponnya dengan menayangkan sejumlah iklan satu halaman penuh di media pers yang menyatakan bahwa hamburger-hamburger mereka, diolah dari sumber-sumber yang ada di negara tempat hamburger itu dikonsumsi dan daging-daging itu tidak diimpor dari negara-negara berkembang.

                  Seorang wartawan yang menerima berita negatif dari kelompok penekan biasanya akan merespon dengan menggali sisi lain berita itu dari pihak perusahaan. Hal ini tidak hanya disebabkan  alasan hukum, karena koran bisa dituntut atas pencemaran nama baik bila mereka mencetak berita yang ternyata tidak benar, namun juga karena sebagian besar wartawan ingin bersikap profesional dan mereka ingin memastikan akurasi serta kejujuran berita. Mereka mungkin akan meminta tanggapan dari bagian humas, manajer humas atau bahkan eksekutif senior melalui pemberitahuan mendadak atau bahkan tanpa menyampaikan pemberitahuan lebih dulu.   Jadi sebaiknya perusahaan selalu siap setiap saat dan menjawab pertanyaan-pertanyan yang diajukan dengan selengkap mungkin. Namun, lebih baik menunda komentar ketimbang mengatakan sesuatu yang akan memperburuk keadaan!

                  Dalam situasi ini, lebih baik mengucapkan ‘Maaf, saya akan memikirkannya dulu dan akan menjawabnya nanti’ ketimbang mengucapkan kalimat klise seperti ‘no comment’. Kata-kata pertama paling tidak mengesankan bahwa anda ingin membantu, sementara ‘no comment’ mengesankan bahwa anda ingin menyembunyikan sesuatu.

                  Defensive PR merupakan respon terhadap serangan dari luar perusahaan dan upaya-upaya menetralkan serangan itu. Serangan-serangan mungkin berasal dari kelompok penekan, wartawan investigasi atau dari anggota parlemen. Cara teraman menangani jenis serangan ini adalah dengan mulai berusaha memahami sang musuh dan agar hal itu bisa terjadi, pertanyaan-pertanyaan berikut mesti dilontarkan:

1.      Apakah mereka memiliki bukti atas kritik mereka?

2.      Fakta apa yang bisa mereka gunakan?

3.      Siapa yang coba mereka pengaruhi?

4.      Bagaimana cara mereka melakukannya?

                  Bila kelompok penekan memiliki bukti atas kritik mereka, maka perusahaan perlu melakukan sejumlah tindakan penyesuaian untuk memadamkan kritik-kritik itu, bila hal ini tidak dilakukan, maka masalah ini akan terus berlarut-larut. Bagian humas yang baik akan selalu memberi tanggapan. Siapapun yang menonton acara jurnal investigasi di televisi, pasti akan menyimpulkan bahwa manajer atau direktur perusahaan yang buru-buru kabur dan hanya menyisakan pernyataan ‘no comment’ akan nampak bersalah, sementara orang-orang yang siap diwawancarai selalu nampak jujur (tentu saja sampai wartawan memperoleh bukti yang tak bisa dibantah lagi).

                  Proactive PR dengan sistematis berusaha mempengaruhi opini, tanpa menunggu datangnya serangan eksternal. Manajer akan memutuskan sejumlah hal di bawah ini:

1.      Siapa yang perlu dipengaruhi?

2.      Apa yang kita butuhkan untuk mempengaruhi mereka?

3.      Bagaimana kita bisa mempengaruhi mereka?

4.      Bagaimana cara menyusun argumen dengan cermat agar dampak bisa dimaksimalkan?

                  Intinya, jauh lebih baik agar kita bersikap proaktif ketimbang hanya defensif (atau reaktif), karena dengan bersikap proaktif, humaslah yang memegang kendali atas proses pembentukan opini dan bagian humas juga akan lebih siap. Bila perusahaan merencanakan tempat pembuangan limbah di lahan yang indah, lebih baik mereka menghubungi Walhi sebelumnya dan meminta pendapat mereka, ketimbang menanggung protes pada akhirnya serta habis waktu untuk membereskan masalah itu!

 

Apa yang humas akan lakukan

                  Berikut ini adalah hal yang akan dilakukan  humas yang baik bagi perusahaannya:

1.      Mampu membantu membangun citra positif.

2.      Mampu menetralkan publisitas negatif.

3.      Mampu meningkatkan motivasi para karyawan.

4.      Mampu mendukung efektivitas iklan dan wiraniaga.

                  Di sisi lain, hal berikut ini adalah hal-hal yang tidak akan dilakukan   humas untuk perusahaan:

  1. Humas tidak bisa mengatrol angka penjualan.
  2. Tidak akan menutupi sesuatu yang akan merugikan perusahaan.
  3. Tidak akan menggantikan aktivitas promosi lainnya.

                  Intinya, humas akan bekerja efektif bila menjadi bagian program aktivitas promosi yang terencana dan terpadu yang juga melibatkan bagian iklan, promosi penjualan dan personal selling. Humas tidak akan berfungsi efektif bila terisolasi dari bagian lain dan hanya sekali-sekali saja digunakan bila ada krisis bak pemadam kebakaran.

 

Humas internal

                  Tujuan aktivitas humas internal adalah untuk mendorong para karyawan agar mereka lebih bersemangat pada tugas mereka serta tujuan organisasi. Sebenarnya benefit juga akan dirasakan karyawan sendiri: kebanyakan orang bangga menjadi bagian organisasi yang bereputasi baik dan mereka pasti akan terkayuh semangatnya dan melakukan yang terbaik bagi pekerjaan mereka. Pekerjaan mendominasi keseharian seorang karyawan; kerja merupakan bagian hidup seseorang dan memberi peluang bagi seseorang untuk melakukan sesuatu yang berguna.

                  Menciptakan rasa bangga pada organisasi dan pekerjaan bisa disemaikan dengan cara mengupayakan sejumlah poin yang tercantum pada Tabel. Faktor-faktor ini disimpulkan dari hasil studi riset yang melibatkan 82 perusahaan selama lima tahun.

                  Dari perspektif karyawan, perusahaan perlu memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan berikut ini:

  1. Apa tugas saya?
  2. Bagaimana cara saya menjalankannya?
  3. Apakah ada orang yang akan peduli?

                  Saat perusahaan sudah menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, karyawan akan menginginkan jawaban untuk pertanyaan lain:

  1. Bagaimana kondisi kita?
  2. Bagaimana kita mampu beradaptasi pada perubahan situasi?
  3. Bagaimana saya bisa menolong?

 

10 Komentar

  1. Halo

    Artikel yang bagus. Kenalin ini kiki. Sekarang kiki lagi nyari referensi tentang humas yang berhubungan dengan pelanggan. Kalo punya informasi tersebut, bisa di bagi ke kiki ke rizkkyyuliani@yahoo.com

    Terima kasih banyak

  2. makasi ya 4 referensinya thank banget dech n bikin yang banyak lagi about humas

  3. tx ya…dah banyak buanget ngebantun tugas akhir saya..smoga bermanfaat juga buat orang lain.amien

  4. Luar biasa..

  5. ciamix…keren abiz,sgt bantuin garap tugas smg baik pula bagi yg lain.

  6. baguuuusss bgt, kebetulan lg ngerjain tugas eh dapet smua deh jawabannya disini.. makaciiii…

  7. makasih bgt atas artikel ny yang sangat bagus ini… saya jadi terbantu untuk membuat tugas …..

  8. artikel memberikan pencerahan dan semangat baru n ih..!! Saya juga lagi mencari materi ini. Terima kasih yah..

  9. Aq sngat brtrimaksh,krna tgs kulh ku bs trselesaikn dgn artikel in..

  10. keren
    bsa jd acuan tulisan niii


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.