Merek Global

Setelah Perang Dunia II usai, banyak perusahaan internasional memutuskan terjun bersaing langsung di pasar-pasar domestik.  Sebelum itu, strategi ekspor dianggap tak lebih dari sekedar eksploitasi finansial merek-merek besar. Namun di tahun 1970an, setelah melihat kampanye sejumlah merek Amerika di Eropa meraih sukses, makin jelaslah bahwa kriteria finansial terhadap ekspor dirasa tak lagi memadai dalam menghadapi serangan merek asing. Motif ekspansi pasar internasional meraih momentum strategis setelah 1970an. Mereka sadar bila ingin memproteksi posisi jangka panjang di pasar domestik, pabrikan mau tak mau harus mampu bersaing dengan pabrikan merek asing di kandang mereka sendiri. Sebagai ganti strategi ekspor, global branding menjadi semakin populer.

Menghadapi  pasar yang unik dan heterogen, merek global  harus cermat menyeimbangkan antara global  standardization dan local customization. Standarisasi jelas akan  meningkatkan efisiensi dan konsistensi yang lebih baik dalam  menangani operasi global. Skala ekonomi yang substansial akan diraih  melalui standarisasi produksi, distribusi, pemasaran, dan  manajemen. Skala ekonomis akan diterjemahkan menjadi value yang lebih  besar bagi pelanggan dengan menawarkan kualitas yang tinggi dan produk-produk yang lebih andal dengan harga yang lebih murah.

Namun  di  sisi lain, merek global harus  melayani  beragam pelanggan yang  unik  di berbagai pasar di  banyak negara.  Mereka mulai melihat bahwa program pemasaran akan  lebih efektif jika disesuaikan dengan target pelanggan di masing-masing negara itu. Berbagai kondisi unik itu menuntut perlunya adaptasi, baik itu melalui fitur produk,  maupun dalam kampanye iklan, kemasan, warna, bahan, harga, iklan, strategi penjualan, dan sebagainya. Diferensiasi di pasar lokal dapat dilakukan pada content, konteks, atau infrastruktur.  Coca-Cola menggunakan diferensiasi content dan konteks di Asia.  Untuk  content-nya,  Coca-Cola membuat produknya mengandung lebih sedikit pemanis  dan karbonasi di sejumlah negara Asia Tenggara. Sementara itu, diferensiasi konteks mereka wujudkan dalam  bentuk label dan kemasan. Di Cina, nama “Coca-Cola” ditulis dalam  huruf Cina  dan  diucapkan  sebagai Kekoukele,  yang  berarti  “minuman menyenangkan” atau ”Can-Be-Tasty-Can-Be-Happy”  dalam bahasa Cina.

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s