Marketing Public Relations menjembatani Marketing dan Humas

Manajer pemasaran dan Humas tidak selalu sepakat. Manajer pemasaran lebih berorientasi laba atau angka penjualan, sementara praktisi humas melihat fungsi utamanya adalah menyiapkan dan menyebarkan komunikasi. Perbedaan ini kini terjembatani oleh penerapan marketing public relations (MPR) yang secara langsung mencoba mendukung promosi perusahaan atau produk serta pembentukan citra. Jadi MPR lebih berfungsi untuk mendukung program pemasaran, sehingga kegiatan-kegiatan MPR harus menjadi bagian atau dipadukan dengan program pemasaran. Misalnya, kegiatan MPR produsen rokok antara lain bertujuan menekan persepsi masyarakat bahwa rokok adalah musuh masyarakat.

Dulu MPR lebih dikenal dengan publisitas, yang tugasnya mengusahakan editorial space – lawan dari paid space – di berbagai media untuk mempromosikan atau “mengkatrol” sebuah produk, layanan, gagasan, tempat, tokoh atau organisasi. Namun MPR berfungsi lebih jauh dari sekedar publisitas dan punya peran penting dalam :

Mendukung peluncuran produk: Sukses luar biasa produk perangkat lunak Microsoft: Windows antara lain berkat publisitas yang cerdik.

Membantu repositioning produk: Kota New York sangat jelek di mata pers hingga tahun 1970an ketika kampanye “I Love New York” diluncurkan. Pemda Yogyakarta dibantu MarkPlus dan Landor mengkampanyekan “Jogja Never Ending Asia” di kalangan warga dan wisatawan.

Mempopulerkan kategori produk tertentu: Di Amerika, asosiasi dagang dan perusahaan memanfaatkan MPR untuk menimbulkan minat baru pada komoditas yang menurun popularitasnya seperti telur, susu, keju, daging dan kentang.

Mempengaruhi kelompok sasaran tertentu: Agar beroleh simpati kaum muda, HM Sampoerna membentuk Yayasan Sampoerna yang programnya antara lain memberi beasiswa pada ribuan pelajar dan mahasiswa dan mensponsori lomba kreativitas film teve anak-anak di kalangan pelajar SD dan SMP. A Mild Live Productions yang mengadakan serangkaian konser di puluhan kota di Indonesia bertujuan ganda: event retention, yaitu mengingatkan dan menahan pemakai produk agar tetap setia dan event acquisition, menarik konsumen baru. Tema musik Love, Loud & Legendary Concerts ada tiga, yaitu bernuansa cinta (Padi dan Sheila on 7), cadas (Boomerang dan /Rif) dan legendaris (Chrisye) disesuaikan dengan karakter kotanya masing-masing.

Membela produk yang lagi dalam masalah: Ketika Krating Daeng terganjal masalah kandungan kafeinnya yang tak sesuai dengan label kemasannya, perusahaan cepat-cepat meminta maaf dan menarik produknya dari pasaran serta melakukan langkah-langkah untuk memulihkan citra produk.

Membangun citra perusahaan agar ikut mengkerek citra produk: Menjadi pembicara di berbagai seminar, talkshow di teve, serta pendirian Museum Rekor Indonesia adalah sejumlah upaya Jaya Suprana yang ikut menciptakan citra yang menguntungkan bagi produk Jamu Jago.

4 Komentar

  1. Pantesan jarum suka ngulang-ngulang iklannya tttg pusat bibit di Kudus. Itu MPR yaa

  2. mau tanya klo program tayangan metro TV oleh PT agung sedayu group itu tmasuk mpr ga sih?

  3. Tayangan itu kan ‘paid’, jadi termasuk iklan biasa, hanya dikemas seperti obrolan. Sekarang kan jamannya IMC, jadi kadang iklan dipadukan dengan PR (kehumasan) seperti kasus Jarum yg lagi membangun merek korporat.

  4. […] pemasaran berbasis misi untuk mendongkrak nilai tambah. Misi perusahaan diwujudkan dengan program pemasaran dan kehumasan simpatik. Ada empat cara: aktivitas terfokus, program yang relevan dengan bidang usaha perusahaan, […]


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s