3 Trend Merubah Masa Depan Pemasaran dan Kehumasan

Perubahan lanskap media mau tidak mau akan mempengaruhi dunia bisnis dan pendidikan di masa depan. Paling tidak ada tiga tren media yang sedang mengkristal dalam 4 tahun ke depan.

Krisis Kelangkaan Perhatian
Di tengah-tengah perhatian dunia yang tertuju pada krisis keuangan global yang memenuhi halaman depan media, sebenarnya ada badai lain yang kini mengancam, yaitu attention scarcity. Apa-apa yang dapat kita masukkan ke dalam hidup kita, baik yang sukarela maupun yang dipaksakan pada kita, semakin lama semakin berlimpah, melebihi dari yang kita mampu kelola.

Attention Crash sudah mulai kita rasakan dan masalah ini akan makin menjadi-jadi. Makin melimpah content yang harus kita pirsa. CEO Google pernah memprediksi ”Sekitar tahun 2019, tidak mustahil akan ada semacam piranti semacam iPod yang mampu memuat video yang untuk menontonnya butuh waktu 85 tahun. Kita akan mati sebelum tuntas menonton semuanya.”

Untungnya Generasi Y yang sejak bayi sudah terbiasa memegang mouse tidak akan terlalu kaget menghadapi lingkungan baru ini. Namun pemasar dari generasi tua akan tergagap-gagap beradaptasi dalam menciptakan dan memanfaatkan media yang mampu menembus clutter dan tetap menghasilkan dampak. Kriterianya adalah membuatnya tetap ringkas, simpel dan visual.

Akan muncul banyak kurator digital yang bisa memilah-milah yang terbaik dari tumpukan sampah online dan menyajikannya kembali dalam bentuk yang lebih mudah dicerna dan dinikmati. Embrionya sudah mulai berkecambah. The New York Times mulai merintis karirnya sebagai kurator digital. Di situs tekno-nya reporter sibuk memirsa, menyaring lalu menautkan percikan-percikan gagasan dan percakapan melalui blog yang mengemuka sepanjang hari itu. Mainan baru Intel bersama PopURLs.com adalah semacam ’news tracker’ bagi para profesional TI.

Social Network begitu dibutuhkan laiknya udara
Akan kita bahas di posting berikutnya.

3 Komentar

  1. 85 tahun…??? semoga anak saya ngga menghabiskan hidupnya dengan menonton ipod. amit-amit!😀

  2. […] berbagai inovasi piranti komunikasi, pesan dan audiens memaksa perusahaan menoleh pada integrated marketing […]

  3. […] demi menembus fenomena clutter dan attention scarcity, pengiklan menabrak norma-norma etika periklananan. Yang mereka kejar adalah attention… attention […]


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s