Dokter dijadikan sasaran industri farmasi

Michael Rawlin dalam bukunya The Lancet memberi ilustrasi masalah pembentukan opini dalam pemasaran dengan bahasa agak kritis. Dia menggambarkan bagaimana para dokter dijadikan sasaran industri farmasi dengan cara mengklasifikasikan mereka menjadi dua kelompok, yaitu kelompok konservatif dan kelompok yang berani mengambil resiko.

resep dokter

resep dokter

Kelompok terakhir yang lebih inovatif diidentifikasi oleh para detailer yang mengorek kebiasaan dokter dalam memberi resep pada  para apoteker lokal. Informasi ini bisa dipakai untuk membidik kelompok dokter yang lebih inovatif di saat peluncuran jenis obat baru.  Pembentuk opini ini lalu diundang ke berbagai ‘even’, seminar, makan siang dan sebagainya, dan saat kembali mereka diharapkan mulai meresepkan obat baru.

Kebiasaan mereka diketahui lalu diikuti kelompok dokter yang diklasifikasikan tidak begitu inovatif, hal ini menggambarkan two-step flow dalam komunikasi. Langkah pertama diawali dengan menjaring pembentuk opini, dan selanjutnya menjadi penghubung sosial antara pembentuk opini dan pembebek opini (opinion follower).

Memang faktor terpenting percepatan proses difusi adalah pemanfaatan daya pengaruh opini. Apabila orang ingin merintis bisnis, salah satu pendekatan pemasaran yang patut dilakukan adalah membidik sejumlah pembentuk opini. Bisnis berskala kecil umumnya hanya punya sedikit sumber daya dan tak mampu bersaing menantang anggaran-iklan raksasa dari produsen pesaing. Jadi, ketimbang menghabiskan dana iklan televisi berbiaya mahal untuk membidik konsumen akhir, mereka bisa saja memanfaatkan wartawan bisnis dalam koran lokal, sehingga mereka bisa mendapat peliputan editorial, khususnya aspek-aspek khas bisnis mereka.

Koresponden bisnis di atas dianggap ahli dan punya kredibilitas serta mampu berfungsi sebagai pembentuk opini, terkadang justru lebih persuasif ketimbang iklan berbiaya mahal. Itulah alasan mengapa, misalnya, para desainer pakaian terkenal berupaya ‘show’ dalam peragaan busana besar demi peluang peliputan editorial dalam majalah wanita, majalah mode terkenal atau bahkan koran nasional. ‘Daya jual’ koleksi mereka segera terdongkrak sesudah mereka karya mereka ‘diekspos’ media.

3 Komentar

  1. Salam kenal pak,

    tulisannya sangat menarik pak. Kapan-kapan mau belajar integrated marketing dan online marketing sama Bapak, boleh nggak ?

    Nofa

  2. Salam kenal jg mbak Nofa, kita belajar sama-sama aja ya… sy malah msh belajar2 tg internet marketing, mungkin kamu justru sudah duluan blajar. Tks

  3. Sorry mas Nofa, bukan mbak ya.. Aq jg punya sepupu cewek namanya Nofa. maaf ya. Sy br liat2 blog kamu, kayaknya jg digarap serius ya…. salut dah


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s