Cognitive Dissonance, dari Puas jadi Tidak Puas

Anda mengunjungi banyak dealer lalu katakanlah  anda memutuskan membeli mobil merek tertentu. Pilihan terakhir ini barangkali sedikit tidak sesuai  dengan yang anda inginkan karena tidak ada mobil yang betul-betul persis dirakit sesuai keinginan konsumen, namun pilihan akhir ini bisa dikata pilihan paling memuaskan.

disonansi kognitif

disonansi kognitif

Mungkin bagian dashboard dengan desain lebih menarik ada pada mobil yang tidak jadi terpilih. Pikiran yang bingung menimbulkan dissonance.  Kita mungkin bertanya-tanya,  “Apakah pilihan saya tadi sudah betul?

 Cognitive Dissonance (disonansi kognitif) merupakan masalah psikologis yang timbul karena adanya ketidak-ajegan (inconsistencies) dalam kognisi.

Tingkat dissonance erat kaitannya dengan derajat prioritas masing-masing orang. Jadi, bila masalah dashboard dianggap masalah sepele, maka tingkat dissonance bisa diabaikan. Namun, saat membawa mobil anda pulang dan tetangga anda yang paham tentang mobil bertanya “Kenapa kamu membeli mobil itu, mobil itu kan mudah rusak?”, maka  tingkat dissonance akan meningkat.

Setiap orang berusaha mengurangi cognitive dissonance. Karena itu, Cognitive dissonance menjadi salah satu motivator sebagaimana disebutkan dalam bab 2. Dalam contoh tadi, tingkat cognitive dissonance  yang tinggi terhadap mobil tersebut mendorong konsumen mencari hal-hal yang bisa membenarkan keputusannya, sehingga dia yakin telah melakukan pembelian secara benar.

Tak heran banyak iklan justru ditujukan pada pembeli produk, agar mereka terbantu mengatasi cognitive dissonance, untuk meyakinkan tepatnya putusan mereka sehingga mau membeli produk itu lagi atau setidaknya merekomendasikan pada orang lain kelebihan produk tersebut. Cognitive dissonance meningkat jika konsumen melakukan pembelian yang tidak diinginkan atau jika konsumen merasa tidak puas, khususnya jika perasaan tidak puas sudah ada sebelum terjadi pembelian. Pada saat kita merasa tidak puas itulah muncul cognitive dissonance. Meskipun kita merasa puas, tetapi karena masih ada keraguan, maka tetap muncul cognitive dissonance. Jadi cognitive dissonance tidak sama dengan ketidakpuasan. Memang ketidakpuasan menyebabkan cognitive dissonance, tetapi konsumen bisa juga mengalami cognitive dissonance walau telah puas dengan produk yang dibelinya jika pikirannya tidak konsisten.

Contoh lain bisa diambil dari pasar rokok sigaret. Perokok melihat kemungkinan munculnya cognitive dissonance dan mencoba menghindarinya sejak semula. Penting juga kita catat bahwa walau kita membicarakan cognitive dissonance pada tahap paska-pembelian ini, hal ini juga bisa terjadi pada tahap pra-pembelian. Setiap kali dihadapkan dengan pilihan, maka akan ada banyak pertimbangan dalam pikiran kita, baik yang negatif maupun yang positif, sehingga proses konflik pro dan kontra ini bisa menimbulkan keraguan dan kebingungan walau kita sudah memilih yang terbaik. 

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s