Ambang Batas Inderawi dalam menata persepsi

 

Kemampuan pikiran kita untuk menata persepsi ada batasnya. Inilah yang disebut sebagai ambang batas inderawi (sensory threshold). Masalah yang ada di sini adalah bahwa meskipun ada banyak pesan, namun pikiran kita tidak mampu menampung semua input indrawi. Daya pendengaran atau penglihatan kitasensorykadang tidak setajam binatang. Dalam konteks berbeda kita sudah bahas implikasinya, yaitu dalam pesan subliminal. Jika pesan berada di bawah sensory threshold kita, maka meski pesan itu tidak diterima secara ‘sadar’ namun masih mungkin diterima secara ‘bawah sadar’. Pembaca ‘veteran’ bisa mengingat lagu-lagu (dalam putaran pertama saja) dalam album The Beatles berjudul Sergeant Pepper. Jika ada anjing dalam ruangan, maka lagu ini akan membuat anjing bersikap aneh karena meski tidak terdengar telinga manusia, peluit anjing yang ditiup polisi dalam album itu jelas terdengar oleh anjing!

Aplikasi pemasaran konsep Sensory Threshold antara lain dalam penggunaan pesan audio dari musik yang diputar di toko swalayan yang membangkitkan perasaan ‘jangan mencuri’. Pesan ini dirancang agar berada di bawah sensory threshold agar tak terdengar dengan ‘sadar’ tetapi mampu mencapai pikiran ‘bawah sadar’. Jika penerimanya tidak mengenali pesan itu secara ‘sadar’, maka pesan tidak ditanggapi secara emosional sehingga orang bereaksi sesuai yang diinginkan.

Rasa bir mungkin menjadi berbeda-beda bergantung jenis musik yang mengiringi saat minum. Bir yang sama terasa lebih keras bila musiknya lembut dan terasa tidak begitu keras ketika musiknya juga keras. Sebuah eksperimen mendapati hasil yang serupa di mana konsumen lebih memilih bolpoin yang diiklankan dengan musik atraktif ketimbang bolpoin yang diiklankan dengan musik yang tidak atraktif.

Ada perbedaan-perbedaan yang terjadi pada sensory threshold. Apakah sebuah pesan bisa diterima secara berbeda? Sejumlah mahasiswa dalam riset pemasaran di mana tes rasa menjadi bagian program pembelajaran, mengklaim bahwa mereka suka coklat dan lebih suka satu merek tertentu dan berani bertaruh mereka mampu mengenali merk itu meski semua identitas merk dilepas. Tentu saja ini adalah sebuah tantangan. Coklat menjadi fokus tes itu dan hasilnya mungkin dapat diramalkan. Para responden memilih sampel coklat dan mengatakan merek apa yang biasanya mereka suka dan berpikir bahwa sample yang mereka pilih adalah merek itu, ternyata kebanyakan salah! Percobaan ini menggambarkan betapa pentingnya pemberian merk, imaji iklan, kemasan dan sebagainya dalam mempengaruhi persepsi konsumen tehadap tawaran pemasaran.

Dalam percobaan lain, para perokok pada umumnya dan perokok yang loyal pada merek tertentu menikmati rokok sesuai merek favoritnya dan merek lainnya, tetapi tanpa nama merek pada rokoknya. Mereka tidak dapat mengenali merknya sendiri, tetapi bila ditanya rokok mana yang mereka suka, mereka tentu saja menyebutkan mereknya pilihannya. Meski pada tingkat kognitif mereka tak mampu mengidentifikasi mereknya sendiri, mereka bisa melakukannya pada tataran afektif saat ditanya rokok mana yang paling nikmat.

1 Komentar

  1. Mas uyungs, kalo kemasan apakah juga memiliki dampak yang tinggi pada tataran kognitif ?
    seberapa besar pengaruhnya kemasan itu dibandingkan merek misalnya ?
    makasih buat jawabannya..
    (itung-itung kuliah lagi..hehehehe)


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s