Strategi Pemenangan SBY-Boed jelang Hari-H

boed n bloggerRakyat kecil yang ingin tahu tidak melewatkan kesempatan untuk bertemu langsung dengan sosok cawapres Boediono saat melakukan kunjungan di Pasar Inpres Jelambar Grogol, Jakarta Barat pekan lalu. Masyarakat sekitar Jelambar itu berdesak-desakan dan ikut mengantar Boediono mengunjungi para pedagang pasar. Dalam kesempatan tersebut, Boediono juga sempat bercengkerama dengan ibu-ibu. Selain menggendong sejumlah anak-anak, Boediono juga mengelus perut seorang ibu hamil atas permintaan si ibu.

Boediono sebelum masa kampanye juga mengunjungi Blitar, Kediri dan Surabaya. Di Jawa Timur, Pak Boed mengunjungi acara sayap pemuda NU GPAnsor dan berdialog dengan tokoh-tokoh kampus dan aktivis perempuan lokal. Sebuah talk show bersama Boediono menghadirkan mahasiswa dan para pengusaha lokal dan ditayangkan di jejaring teve lokal. Sembilan pakar ekonomi dari Universitas Gadjah Mada (oleh Butet diplesetkan sebagai Yogyakarta Consessus) siap meng-counter tudingan bahwa Boediono beraliran ekonomi neoliberal. Para pakar ekonomi itu antara lain mantan Ketua Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin), Prof Dr Sri Edi Swasono; Dr Sri Adiningsih; pakar pertanian, Prof Dr Jafar Hafsah; Prof Singgih Rifat; dan lain-lain. Ke-9 pakar akan bekerja di bawah koordinasi Tim Pandu 57.

Menurut Ketua Umum Tim Pandu 57, Seno Adjie, langkah pertama yang akan segera dilakukan adalah bedah buku “Ekonomi Pancasila” yang ditulis Prof Dr Boediono bersama Prof Dr Mubyarto pada 1981 silam. Dalam bedah buku tersebut, Sri Edi Swasono akan memberikan kesaksian langsung mengenai siapa dan bagaimana posisi Boediono dalam konsep ekonomi kerakyatan dan kebangsaan. Langkah berikutnya, Pandu 57 akan menggarap komunitas pengusaha kecil, menengah, dan koperasi. Selain juga menggarap pengusaha besar, kalangan akademisi, transmigran, dan kaum terpinggirkan.

Pak Boed menggelar silaturahim dan sowan kepada para kiai di Lirboyo, salah satu pondok pesantren berpengaruh di kawasan Mataraman Jatim. Untuk mendekati kalangan ulama di Jatim dan Jateng, sejumlah agenda pertemuan telah disiapkan. SBY dan Boediono akan berbagi tugas. Namun sosok Boediono yang humble justru terbukti lebih lincah dan diterima oleh para tokoh-tokoh masyarakat di berbagai pelosok negeri. Tak tanggung-tanggung pula, Boediono menggarap para kiai di Jatim yang selama ini diklaim mendukung JK. Sementara itu para kiai dan tokoh masyarakat (keturunan) Madura akan berkesempatan langsung berdialog dengan SBY yang meresmikan proyek jembatan Suramadu yang mengangkat isolasi Pulau Madura, mengejar ketertinggalan daerah ini dibandingkan kawasan Jawa lainnya. Peresmian mega proyek ini sengaja dipercepat bulan Juni, demikian pula sejumlah proyek penting di daerah-daerah lain.

Pemilihan provinsi dan waktu peresmian ditetapkan dengan cermat. Termasuk pula timing distribusi BLT, pembagian ribuan sertifikat guru/dosen, pencairan KUR kepada UKM/koperasi di bawah naungan Muhammadiyah dan NU serta pembagian gaji ke-13 bagi PNS. Operasi pasar memastikan harga-harga sembako lebih terjangkau, bersinarnya kinerja pasar saham, juga operasi penurunan suku bunga bank akan digencarkan.

Tim pemenangan SBY-Boediono sedang menggelar ‘sentuhan-sentuhan’ khusus guna meraih dukungan di lumbung-lumbung suara yang merupakan basis tradisional capres-capres lawan . Jawa menjadi kunci. 110 juta pemilih berada di sini, termasuk 30 juta pemilih baru. Selain Jawa Timur, setidaknya ada tiga provinsi yang menjadi perhatian khusus tim pemenangan SBY-Boediono, yaitu Jawa Tengah dan Bali yang merupakan kantong pendukung Megawati serta Sulawesi Selatan yang diharapkan menjadi lumbung suara bagi kubu Jusuf Kalla (JK).

SBY Boediono tidak mau mengandalkan perolehan kursi dalam Pileg yang berhasil diraih Partai Demokrat (PD) dengan para parpol mitra koalisinya seperti PKS, PAN, PPP, dan PKB. Perolehan suara pemilih di masa pemilihan legislatif lalu memang belum memastikan kemenangan, meski koalisi SBY-Boediono meraup sekitar 49,2 persen suara. Bandingkan dengan koalisi JK-WIN: 19,9% dan koalisi MEGA-PRO: 20,2%.

Demikian pula efektivitas efek ‘bandwagon’ tidak bisa diandalkan sepenuhnya, karena kritik dan cercaan terkait upaya penggiringan opini lewat publikasi hasil survei LSI ‘tercium’oleh kubu lawan. Paling tidak sebagai hasil pemetaan, hasil survei bisa menjadi bahan analisa segmentasi demografis, geografis dan psikografis mana yang masih perlu digarap pada sisa waktu yang pendek ini. Jutaan kaum Golput akan dirubah menjadi Golboed. Maka operasi senyap yang digerakkan belasan organisasi pro SBY Boediono akan berperan besar memastikan kemenangan pasangan ideal ini pada putaran pertama.

Kampanye senyap ini difasilitasi dan dilipatgandakan efektivitasnya dengan aksi borong slot-slot ‘prime time; di sejumlah televisi. Paling tidak akan diluncurkan tiga versi iklan baru, menyusul iklan bertema ‘keluarga bahagia SBY’ dan iklan ‘berjingle mie instan’. Bisa jadi iklan-iklan ini disasarkan pada aspek-aspek yang sanggup menyentuh sisi emosional masyarakat. Ini di luar iklan-iklan rasional versi sejumlah departemen teknis yang kembali dihimbau menyiarkan sukses pemerintah selama lima tahun terakhir.

Gerakan Pro SBY atau GPS merupakan salah satu tim relawan untuk memenangkan SBY-Boediono. Gerakan GPS terdiri dari dua pola, yakni ada yang terbuka dan tertutup. Sementara sasarannya adalah menggalang dukungan bagi SBY dari kalangan di luar Partai Demokrat (PD) maupun partai pendukung koalisi.

Selain massa golput, GPS juga bergerak mendekati tokoh-tokoh dari lintas suku, lintas partai, serta lintas agama. Dalam menyasar dukungan, GPS menghindari benturan dengan langkah-langkah yang digerakkan tim resmi SBY-Boediono. Lembaga yang berdiri April 2009 ini lebih banyak menyisir “jalan-jalan tikus” dalam memobilasasi dukungan di daerah-daerah.

Solidaritas Menangkan SBY-Boediono (SMS), tim relawan yang terdiri dari anak-anak muda, membidik segmen anak-anak muda pecinta facebook. Relawan ini menyasar kelompok-kelompok anak muda yang apatis terhadap politik, khususnya para facebooker. Munculnya nama GPS dan SMS menambah panjang daftar tim pemenangan SBY yang ada sebelumnya, yakni Tim Echo, Tim Sekoci, Tim Delta, Tim Romeo, Barisan Indonesia atau Barindo, Jaringan Nusantara, President Center dan Yayasan Dzikir SBY Nurussalam.

Namun di antara tim-tim pemenangan SBY, hanya Tim Sekoci yang bernama Indonesia Bersatu (Indoratu) yang bergerak secara rahasia. Tim Sekoci ini mulai eksis menjelang Pemilu 2004 dan komponen pendukungnya para pensiunan tentara. Gerakan mereka mengandalkan pola-pola militer, seperti aktivitas intelijen, teritorial dan sosial-politik Meski tim Indoratu lebih banyak melakukan operasi senyap, namun tim inilah yang justru jadi tulang punggung pemenangan SBY, baik di pilpres 2004 maupun di balik fenomena melonjaknya suara PD di pileg 2009.

Penggalangan oleh Dewan Tani diharapkan akan mementahkan upaya Prabowo dan HKTI-nya. Prediksi saya tidak mustahil dalam waktu dekat ini KPK akan membuat langkah yang mengejutkan.

1 Komentar

  1. Luar biasa..


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s