Citra Merek: Nivea itu lembut dan biru

Kata ‘citra’ biasanya menunjukkan ‘gambaran’ yang dimiliki seseorang tentang sesuatu atau seseorang, atau dalam makna khusus, ‘pendapat stereotipikal publik umum tentang seseorang atau sesuatu’. Gambaranvisual ini mungkin didasarkan pada ciri konkrit obyek atau orang tertentu serta segala jenis aspek imaterial atau aspek tak relevan.

Kita kerap telah membentuk citra tentang sesuatu atau seseorang walau belum bersentuhan dengan obyek atau subyek tadi. Gardner dan Levy mungkin penulis pertama yang memakai istilah ‘citra’ dalam konteks pemasaran. David Ogilvy akhirnya jadi perintis yang menekankan pentingnya citra dalam iklan. Aspek penting pada citra merek adalah gambaran mental Baca lebih lanjut

Iklan

Award, qualification mark dan sertifikasi dalam pengembangan merek

Dalam pengembangan merek, pemasar bisa memanfaatkan asosiasi-asosiasi dan reputasi yang terbangkitkan di benak konsumen lewat pemanfaatan qualification mark atau sertifikat. Istilah ‘qualification mark’ dipakai guna mengacu pada penilaian atas sebuah produk, misalnya penghargaan atau award ICSA (Indonesia Customer Satisfaction Award) yang menandakan bahwa produk atau layanan tersebut telah menunjukkan kinerja terbaik dalam hal kepuasan konsumen.

Sedangkan, istilah ‘sertifikat’ digunakan untuk penilaian terhadap proses produksinya (barang atau jasa), seperti sertifikat ISO (International Standards Organization). Qualification mark dan sertifikat menginformasikan mutu produk, Baca lebih lanjut

Kemasan juga mempengaruhi citra merek

Peran kemasan sebagai atribut ekstrinsik  produk tak bisa disepelekan. Kemasan produk tak hanya berfungsi protektif, namun sebagai atribut juga mempengaruhi citra merek di mata konsumen. Makin kecil belanja iklan dalam pengembangan citra merek, makin penting peran kemasan karena seolah-olah berfungsi sebagai  ‘salesman bisu di titik penjualan’.

Kemasan mempengaruhi citra merek dalam dua cara: kemasan mencerminkan kualitas produk dan kemasan mampu memperkaya asosiasi yang tak terkait dengan atribut intrinsik pada merek. Bahwa kemasan bisa memberi gambaran atribut intrinsik terbukti  dalam percobaan/eksperimen di mana responden diminta mencicipi keripik dari dua kantong. Satu kantong dari bahan sintetis (polyvinil) dan lainnya terbuat  dari kertas yang dilapisi lilin. Meskipun blind test menunjukkan keripik dari kedua kantong dirasa sama enak, tes di mana subyek bisa melihat kemasannya mendapati bahwa keripik dari kantong sintetis dirasa lebih enak dan lebih crispy ! Baca lebih lanjut

Nokia merek Jepang? Häagen-Dazs merek Denmark?

Sebagian nama merek membangkitkan asosiasi pada negara yang bukan lokasi produksinya. Misalnya, Nokia adalah merek Finlandia, bukan merek Jepang sebagaimana tersirat dari namanya. Di Amerika nama Heineken terkesan berbau Jerman, meskipun sebenarnya berasal dari Belanda.

Di balik pemilihan merek es krim dari Amerika dengan merek Häagen-Dazs adalah karena istri pendiri perusahaan (Reuben Mattus) ingin konsumen mengasosiasikannya dengan negara Denmark (yang di Amerika memang lebih dikenal sebagai penghasil utama produk turunan susu).

Baca lebih lanjut

KOMUNIKASI PEMASARAN TERPADU: Paradigma baru atau sekedar istilah baru?

Paradigma komunikasi yang selama ini dianut, yang hanya mementingkan upaya perusahaan memikat konsumen dengan mengandalkan iklan dan promosi semata mulai dipertanyakan banyak pihak.

Munculnya berbagai inovasi piranti komunikasi, pesan dan audiens memaksa perusahaan menoleh pada integrated marketing communications (IMC) atau Komunikasi Pemasaran Terpadu.

Baca lebih lanjut