Bauran komunikasi pemasaran

Untuk menyampaikan sesuatu pada konsumen dan pihak-pihak terkait lainnya, pemasar kini bisa memilih aktivitas komunikasi tertentu, sering disebut elemen, fungsi atau alat (tool) yang terutama terdiri dari periklanan, penjualan personal, humas (PR) dan promosi penjualan. Berkat kemajuan teknologi dan perkembangan ilmu pemasaran, kini komunikasi perusahaan tidak lagi terbatas pada platform komunikasi konvensional yang secara kolektif disebut dengan bauran komunikasi pemasaran (marketing communication mix). Daftar yang sedikit lengkap akan mencakup bentuk-bentuk piranti komunikasi di bawah ini:

Iklan balon, promosi merchandise, MPR, penjualan di pesawat, spanduk, kontes, game, press kit, presentasi, katalog, kemasan, lotere, rapat penjualan, mailing, seminar, program insentif, telemarketing, sampling, laporan tahunan, jejaring sosial di internet, brosur, pekan raya, sumbangan amal, TV shopping, poster, pameran dagang, sponsorship, fax mail, direktori, demo, publikasi, e-mail marketing, kupon, voice mail, baliho/billboard, program rabat, lobbying, display sign, financing, majalah intern, event, logo, program tukar tambah, ambient advertising, dll.

Baca lebih lanjut

Faktor Gender dalam Segmentasi

Faktor gender masih relevan dalam segmentasi. Satu tren penting pada tahun 2000-an adalah perubahan yang terus terjadi pada ‘konsumen wanita’. Meningkatnya angka perceraian dan pasar ‘lajang’ mendukung terjadinya perubahan peran gender, kini wanita menjadi lebih individualis dengan mengurusi kariernya sendiri ketimbang sekedar menjadi ibu rumah tangga. Pemasaran yang ditujukan pada wanita masih mungkin akan terus mengalamai pembaharuan-pembaharuan.

Konsep ‘kaum pria baru’ muncul pada awal tahun 2000-an dan kita melihatnya lewat iklan popok, misalnya, adanya ‘lelaki yang penuh kasih sayang dan perhatian’ yang menggendong bayinya; sebuah citra yang sangat  berbeda dengan pria pemberani yang agresif dan egois pada iklan-iklan rokok. Masih diperdebatkan apakah tahun-tahun mendatang terwujud perubahan nyata menuju ‘kaum pria baru’ yang penuh kasih sayang dan perhatian, Baca lebih lanjut

Marketing Public Relations menjembatani Marketing dan Humas

Manajer pemasaran dan Humas tidak selalu sepakat. Manajer pemasaran lebih berorientasi laba atau angka penjualan, sementara praktisi humas melihat fungsi utamanya adalah menyiapkan dan menyebarkan komunikasi. Perbedaan ini kini terjembatani oleh penerapan marketing public relations (MPR) yang secara langsung mencoba mendukung promosi perusahaan atau produk serta pembentukan citra. Jadi MPR lebih berfungsi untuk mendukung program pemasaran, sehingga kegiatan-kegiatan MPR harus menjadi bagian atau dipadukan dengan program pemasaran. Misalnya, kegiatan MPR produsen rokok antara lain bertujuan menekan persepsi masyarakat bahwa rokok adalah musuh masyarakat.

Baca lebih lanjut

Memulihkan Kepercayaan terhadap Merek

Komitmen perusahaan sangat krusial dalam mendengar dan merespon suara konsumen. . Diharapkan dengan kesungguhan upaya itu tumbuh kepercayaan pelanggan pada kejujuran, integritas, dan keandalan merek. Kepercayaan atau trust tersebut cerminan dari rasa aman pada diri pelanggan karena mereka yakin bahwa merek yang mereka pilih serta experiential process yang mereka jalani akan memenuhi ekspektasi mereka. Pemasar tidak bisa lagi mengambil resiko kehilangan sejumlah pelanggan hanya lantaran ketidakpuasan pelanggan diabaikan. Lebih baik perusahaan mengorbankan uang yang relatif sedikit untuk mengkompensasikan kekecewaan konsumen tersebut melalui program service recovery atau win-back marketing program. Tidak sekedar dengan merespon komplain, namun terutama juga penanganan pada saat-saat kritis.

Di Amerika, pernah terjadi bencana pada merek tertentu yang malah membuat kepercayaan konsumen justru makin terdongkrak. Baca lebih lanjut

Iklan antara rational atau emotional positioning

Obama

Iklan yang baik biasanya fokus hanya pada satu core selling proposition. Pengiklan biasanya melakukan riset pasar untuk menentukan appeal mana yang paling berdampak pada sampel audiens sasaran. Sejumlah atau setidaknya dua alternatif pesan iklan yang masing-masing punya proposition yang berbeda dievaluasi dan diperingkat berdasarkan faktor desirability, exclusiveness dan believability.

 

Setelah core selling proposition selesai dirumuskan, maka tahap selanjutnya adalah bagaimana mengeksekusinya menjadi pesan. Tahap eksekusi sangat menentukan. Selain pada apa yang hendak dikomunikasikan, dampak iklan juga bergantung pada bagaimana pesan tersebut disampaikan. Sejumlah iklan lebih membidik rational positioning, sementara lainnya mengutamakan emotional positioning. Baca lebih lanjut

Kesadaran Nama Merek (Brand Name Awareness)

Penelitian mendapati bahwa kesadaran nama merek bergantung pada frekuensi pembelian produk dan konsumen bisa menyebutkan lebih banyak nama merek di kategori produk tertentu ketimbang kategori lain (tergantung intensitas iklannya). Lebih dari 60 % merek terkenal berusia lebih dari 50 tahun. Dalam kasus TOMA (top-of-mind-awareness) ekstrim, nama merek telah menjadi sinonim dengan kategori produk; dominasi merek sangat tinggi sehingga terkadang dinamakan branduct (sebagai istilah plesetan ‘produk’). Contoh-contoh merek itu adalah Aspirin, Odol, Aqua, Spa, Honda dan Walkman. Nama merek terkenal mampu membangkitkan rasa keakraban konsumen sehingga peluang konsumen membelinya menjadi lebih tinggi. Umumnya, dalam rangka mengurangi ketidakpastian, nama merek terkenal memiliki nilai yang lebih tinggi di mata konsumen

Baca lebih lanjut

Dilusi Merek

Sebagai dampak peluncuran extended product, citra merek yang sudah lama terbangun bisa mencair dan kabur di mata konsumen. Gara-gara extended product, nama merek bisa-bisa tak lagi membangkitkan asosiasi (produk) tertentu, sehingga terjadilah dilusi merek.

Contoh extended product yang mungkin bisa mendilusi merek adalah ekstensi merek Harley-Davidson. Memakai nama merek ini diluncurkanlah rokok, bir, aftershave, crayon dan café. Citra merek Harley-Davidson bisa dirumuskan sebagai ‘tangguh’ dan ‘maskulin’. Dari pola asosiasi ini, misalnya, produk aftershave murahan dengan nama HD nampaknya akan merusak citra merek Harley-Davidson. Baca lebih lanjut