Riset Coca Cola tentang Kepuasan Pelanggan

Riset  Coca Cola tentang kepuasan pelanggan dan komtmen perusahaan memberi tanggapan pada keluhan atau komplein masyarakat mengungkapkan beberapa hal menarik. Simak ikhtisar dari hasil temuan riset Coca Cola tersebut berikut ini:

  • Pelanggan yang merasa benar-benar puas akan menceritakan pengalamannya pada empat sampai lima orang lainnya.
  • Hampir 10 persen pelanggan yang merasa benar-benar puas meningkatkan pembelian mereka pada produk perusahaan. Lebih dari 12 persen akan menceritakan tentang respon perusahaan kepada sekitar 20 orang. Baca lebih lanjut
Iklan

Iklan subliminal membujuk pikiran bawah sadar pelanggan

Banyak orang percaya bahwa konsumen dapat dipengaruhi pada tingkat ‘bawah sadar’ bahkan tingkat ‘tidak sadar’ dengan iklan “subliminal”. Iklan subliminal mampu mempengaruhi perilaku konsumen tanpa konsumen menyadarinya. Contoh klasik uji percobaan iklan subliminal adalah tayangan kilat pesan seperti

jessica rabbit

jessica rabbit

“makanlah popcorn” atau “minumlah Coca-Cola” yang diselipkan dalam sebuah film  di bioskop New Jersey.  Tayangan ini begitu cepatnya sehingga tak dapat ditangkap  pikiran ‘sadar’.  Pendekatan itu dipakai dalam media film yang kemudian memicu timbulnya polemik di publik  sehingga iklan subliminal kini dianggap illegal di banyak negara.

 

Baca lebih lanjut

Perang Merek : Coca Cola vs. Pepsi

Perang merek yang bikin semua orang di dunia pemasaran menahan nafas, mengerinyitkan dahi dan lalu garuk-garuk kepala, tentu saja antara dua merek raksasa yaitu Coca Cola dan Pepsi. Kedua-duanya berasal dari Amerika Serikat, negara yang sekarang lagi sibuk mengadakan pilcapres.

Coke vs Pepsi

Coke vs Pepsi

 

Semenjak dua merek tersebut ditahbiskan, masing-masing pada tahun 1886 dan 1903 antara keduanya sudah terjadi persaingan, saling sikut dan perang iklan, baik iklan cetak dan video. Mereka berambisi bisa meraih dominasi pasar minuman ringan berkarbonasi. Bisa dimaklumi kalau terkadang masalah etika sedikit terkesampingkan.

Kita ambil ilmunya saja lah. Nah, kini sambil tidak mempermasalahkan dulu masalah etika, mari kita lebih menyorot kreativitas Coca Cola dan Pepsi dalam upayanya memenangi simpati dan preferensi pelanggan.

Di www.Hongkiat.com  beberapa iklan video kedua merek bisa kita pelototin. Contoh-contoh iklan-cetaknya bisa dinikmati dan dianalisa di bawah ini. Baca lebih lanjut

Atribut Merek dalam Proses Evaluasi Pembelian Konsumen

Merek hanyalah salah satu atribut produk yang dievaluasi konsumen saat membeli. Atribut lainnya adalah kemasan, harga, dan aspek-aspek instrinsik maupun ekstrinsik lainnya. Sebenarnya bagaimana peran merek dalam hirarki atribut? Pada akhirnya merek juga sebuah atribut dalam hirarki yang mesti ‘bersaing’ dengan atribut-atribut lain dalam merebut perhatian konsumen. Jika pemasar tidak melakukan apa-apa untuk membentuk makna merek di mata konsumen, maka merek mungkin saja akan menempati posisi lebih rendah dalam hirarki atribut. Merek semacam ini hanya punya sedikit makna bagi konsumen. Jadi, apabila pemasar ingin merek berperan penting dalam hirarki atribut, maka merek mesti dibuat bermakna di mata konsumen.

Nah, sebuah instrumen yang mesti dioptimalkan untuk membuat merek menjadi bermakna adalah komunikasi pemasaran (khususnya iklan). Baca lebih lanjut

Sejarah Merek

Praktik pemberian merek bisa dilacak jejaknya dari sejarah perniagaan kuno. Dari sejarah perniagaan Romawi, misalnya, diketahui adanya praktik pemberian nama-nama yang diukir atau dituliskan pada batu, khususnya untuk menunjukkan jalan ke ‘toko’ tertentu. Bahkan bukti sejarah menunjukkan adanya penandaan dengan menggunakan perak dengan maksud memberikan identitas pembuat sebuah produk, hanya saja saat itu belum berfungsi sebagai media promosi.

Kata ‘brand’ itu sendiri besar kemungkinan bersumber dari kata kuno Norwegia brandr, yaitu praktik pencantuman tanda kepemilikan  pada hewan ternak. Bangsa Viking yang pernah menduduki Inggris cukup lama menjadikannya sebagai bahasa sehari-hari. Baca lebih lanjut

Membeli posisi di benak pelanggan

Pada bulan Juli 1990, ketika Bernard Tapie ditanya mengapa dia membeli Adidas –merek dengan tiga garis yang pada dekade itu sangat beken itu– dia mengungkapkan alasannya. Bahwa saat itu, setelah Coca-Cola dan Marlboro, Adidas adalah merek paling terkenal di dunia. Dunia pemasaran memang tak jarang diwarnai dengan berbagai akuisisi merek di mana perusahaan berani membayar dengan harga tinggi saat membeli perusahaan pemilik merek

Di antara sejumlah akuisisi yang terkadang tidak diungkapkan nilai transaksinya, tercatat Coca-Cola pernah membeli empat merek air mineral milik PT Ades Alfilindo senilai US $ 19,9 juta.  Phillip Moris konon mesti merogoh koceknya Rp 16 trilyun dua tiga tahun yang lalu untuk membeli saham keluarga Sampoerna di PT HM Sampoerna, pemilik sejumlah merek rokok terkenal. Baca lebih lanjut