KOMUNIKASI POLITIK OBAMA

Barack Obama terpilih sebagai Marketer of the Year  2008 dari Ad Age mengalahkan merek-merek terkenal seperti Apple dan Nike. Betapa tidak? Sejumlah jajak pendapat hingga dua minggu menjelang pemungutan suara mengunggulkan Barack Obama sebagai pemenang pilcapres Amerika Serikat 2008. Koran-koran terkenal bahkan sudah merilis tajuk rencana yang mendukung Obama sebagai kandidat presiden yang paling tepat untuk mengurai kekusutan masalah, baik ekonomi maupun geopoltik, yang kini mengancam AS ke tubir jurang resesi ekonomi.

Kemenangan Obama hingga sampai pada tahap ini banyak dinilai sebagai kemenangan komunikasi politik Baca lebih lanjut

Iklan

Positioning dan komunikasi pemasaran

Penentuan positioning merek biasanya dilakukan pada 2 dimensi, yakni: harga relatif  merek dan dimensi intrinsik (yang ditawarkan merek pada konsumen, baik dalam aspek- aspek material maupun imaterial). Pemasar bisa memilih antara ketiga strategi positioning harga berikut: strategi biaya rendah (low cost), premium dan prestis.

Kebijakan pricing atau penetapan harga bisa disesuaikan sesuai strategi masing-masing. Pada strategi biaya rendah, pemasar memilih bersaing dengan menawarkan harga serendah mungkin (ingat Asia Air). Sebaliknya, pada strategi pemium dan prestis, pemasar menghindari jor-joran persaingan harga dengan menawarkan produk yang tinggi maknanya di mata konsumen (lewat strategi diferensiasi); untuk harga prestis, derajat diferensiasinya bahkan sangat tinggi (baik dari aspek material maupun imaterial).

Baca lebih lanjut

Strategi Merek Berharga Murah Tidak Perlu Diferensiasi

Selalu kita diwanti-wanti dalam hal positioning, setiap merek harus bisa dibedakan dari merek lain. Namun perlu diingat diferensiasi butuh investasi besar (dalam komunikasi pemasaran). Sementara  bagi pemasar yang memilih strategi biaya rendah tidak tersedia cukup anggaran buat komunikasi pemasaran, sehingga diferensiasi justru tidak disarankan. Untuk memikat konsumen pada merek dengan strategi biaya rendah, pemasar sebaiknya mengadopsi atribut-atribut intrinsik produk yang sudah terbukti sukses dengan strategi premium atau prestis. Jadi, strategi biaya rendah justru memilih kebalikan diferensiasi: identifikasi.

Baca lebih lanjut

Diferensiasi Merk

Menyambung pertanyaan tentang sensitivitas merek, pertanyaan berikutnya adalah: Apakah diferensiasi bersifat istimewa? Kita lihat sebagai akibat dari makin melubernya merek, pemasar kini makin sulit menemukan basis nyata diferensiasi produk. Sekarang ini, misalnya, ada lebih dari 100 merek rokok. Hampir tak mungkin pemasar menerapkan diferensiasi pada masing-masing merek berdasarkan jenis, rasa tembakau, atau jenis kertas yang digunakan. Menurut riset, rata-rata lebih dari 50% jumlah konsumen hanya tahu sedikit atau bahkan merasa tidak ada perbedaan antar merek di kategori produk tertentu (sejauh mana konsumen menganggap produk sebagai barang identik disebut sebagai level of brand parity).

Nah, apabila diferensiasi berdasar aspek-aspek material sulit dilakukan, maka jalan keluarnya adalah diferensiasi pada aspek-aspek imaterial. Jenis diferensiasi ini biasanya dibuat dengan menciptakan dunia pengalaman tertentu di sekitar merek (misalnya Amild, ClassMild, Marlboro Country, Xmild dan UMild Baca lebih lanjut

Ekuitas Merek

Kendati perannya telah terhitung sejak lama, namun baru pada abad 20 merek dan asosiasi merek menjadi begitu penting bagi pemasar. Bisa dikatakan pemasaran modern diwarnai oleh penciptaan berbagai merek. Pemasar saat itu mulai mengandalkan riset untuk membantu mereka merumuskan dan mengembangkan basis diferensiasi merek. Penggunaan atribut, nama, kemasan, strategi distribusi, dan iklan diyakini bisa menancapkan asosiasi merek yang unik di benak pelanggan. Sejak saat itu, terjadi pergeseran besar-besaran dari komoditas menjadi produk bermerek. Alhasil dalam membeli sebuah produk, konsumen tidak lagi sekedar berpatokan pada tinggi rendahnya harga, namun lebih melihat basis diferensiasi merek. Sejak itu pertumbuhan merek baru makin bertumbuh pesat. Ribuan merek baru dilansir tiap tahunnya.
Nah, kini kita tahu beda antara merek dan produk, namun tahukah anda bahwa perlu waktu berpuluh tahun untuk menyadari perbedaan ini secara eksplisit dalam ilmu pemasaran? Baca lebih lanjut