Kreativitas iklan untuk menembus fenomena ‘clutter’

Saat kita menyalakan televisi, bisa dipastikan kita akan melihat banyak iklan bersliweran di sana. Begitu pula dalam perjalanan pulang dari kantor, misalnya, mau-tak-mau kita melihat iklan-iklan bertebaran dipampang di pinggir atau di atas jalan, baik berbentuk papan iklan ataupun neonbox. Dalam lingkungan masyarakat modern, kita seakan terkepung oleh berbagai ‘pesan sponsor’ yang menyerang kita tanpa pandang bulu.

Namun begitulah, memang sudah menjadi tugas pemasar untuk terus-menerus berusaha menyemai dan memperkuat brand awareness dari produk-produk yang mereka tawarkan. Bila perlu, segala macam cara dan kiat mereka halalkan. Tak pelak lagi, pemasar yang smart kini memiliki berbagai ragam taktik promosi dan tak segan menerapkan taktik-taktik mereka dengan canggih untuk memaksimalkan dampak aktivitas komunikasi pemasaran.

Jajaran kreatif periklanan sendiri pada umumnya sepakat bahwa menayangkan iklan bagaikan upaya ‘mencuri’ sekotak kavling di benak konsumen

Baca lebih lanjut

Iklan

Atribut Merek dalam Proses Evaluasi Pembelian Konsumen

Merek hanyalah salah satu atribut produk yang dievaluasi konsumen saat membeli. Atribut lainnya adalah kemasan, harga, dan aspek-aspek instrinsik maupun ekstrinsik lainnya. Sebenarnya bagaimana peran merek dalam hirarki atribut? Pada akhirnya merek juga sebuah atribut dalam hirarki yang mesti ‘bersaing’ dengan atribut-atribut lain dalam merebut perhatian konsumen. Jika pemasar tidak melakukan apa-apa untuk membentuk makna merek di mata konsumen, maka merek mungkin saja akan menempati posisi lebih rendah dalam hirarki atribut. Merek semacam ini hanya punya sedikit makna bagi konsumen. Jadi, apabila pemasar ingin merek berperan penting dalam hirarki atribut, maka merek mesti dibuat bermakna di mata konsumen.

Nah, sebuah instrumen yang mesti dioptimalkan untuk membuat merek menjadi bermakna adalah komunikasi pemasaran (khususnya iklan). Baca lebih lanjut

Apalah arti sebuah nama merek?

Nama merek rokok kalau dipikir-pikir lucu-lucu ya? Ada merek rokok Jarum, Jagung, Jambu Bol, Kerbau, Gudang Garam (apa hubungannya rokok dengan garam hayoo?), Grendel (kok gak sekalian dikasih nama Gembok saja?)

Nama merek menurut teorinya bisa menimbulkan dua asosiasi dalam benak konsumen, yaitu asosiasi tentang nama itu sendiri (terlepas dari merek yang diberi nama) dan asosiasi-asosiasi yang dipelajari konsumen untuk dikaitkan dengan nama merek itu dalam penggunaannya sebagai nama merek. Dalam pilihan nama merek, pemasar umumnya menyetujui atau menolak sebuah nama atas dasar asosiasi yang ditimbulkan nama tersebut saat itu. Katakanlah pemasar memberi nama komputer yang akan dilansirnya ke pasar dengan nama Kangaroo, maka asosiasi yang dibangkitkan nama ini tidak cocok dipakai untuk komputer daripada Laser, misalnya. Nama Laser menerbitkan asosiasi pada teknologi moderen dan tidak menyimpang dari citra konsumen mengenai komputer pada umumnya. Baca lebih lanjut

Positioning dan komunikasi pemasaran

Penentuan positioning merek biasanya dilakukan pada 2 dimensi, yakni: harga relatif  merek dan dimensi intrinsik (yang ditawarkan merek pada konsumen, baik dalam aspek- aspek material maupun imaterial). Pemasar bisa memilih antara ketiga strategi positioning harga berikut: strategi biaya rendah (low cost), premium dan prestis.

Kebijakan pricing atau penetapan harga bisa disesuaikan sesuai strategi masing-masing. Pada strategi biaya rendah, pemasar memilih bersaing dengan menawarkan harga serendah mungkin (ingat Asia Air). Sebaliknya, pada strategi pemium dan prestis, pemasar menghindari jor-joran persaingan harga dengan menawarkan produk yang tinggi maknanya di mata konsumen (lewat strategi diferensiasi); untuk harga prestis, derajat diferensiasinya bahkan sangat tinggi (baik dari aspek material maupun imaterial).

Baca lebih lanjut

Konsep Iklan setelah benefit tidak lagi menjadi faktor diferensiasi

Pesan iklan sudah semestinya bermula dari konsep produk yang kuat, karena memang biasanya yang dikomunikasikan dalam pesan iklan adalah benefit unik produk tersebut. Meskipun demikian seiring berjalannya waktu pemasar dapat saja merubah-rubah pesan iklan, khususnya apabila di mata konsumen benefit yang lama sudah tidak lagi dipersepsi sebagai faktor diferensiasi produk, dan pemasar ingin menggali benefit baru yang berbeda dari produk tersebut. Dalam konteks ini, faktor kreativitas menjadi penting.  

Personel kreatif biasanya menggunakan beberapa metode dalam upayanya menelorkan appeal iklan. Dengan mewawancarai pelanggan, dealer, pakar dan bahkan pesaing, pekerja kreatif mampu mengira-ngira Baca lebih lanjut