Pembentukan Opini dalam pemasaran

Bisnis berskala kecil umumnya hanya punya sedikit sumber daya dan tak mampu bersaing menantang anggaran-iklan raksasa dari pesaing. Jadi, ketimbang menghabiskan dana iklan televisi berbiaya mahal untuk membidik konsumen akhir, mereka bisa saja memanfaatkan wartawan bisnis dalam koran lokal, sehingga mereka bisa mendapat peliputan editorial, khususnya aspek-aspek khas bisnis mereka.

Metode serupa juga diterapkan di berbagai industri, misalnya dalam bidang otomotif (saat meluncurkanpeluncuran-mobil mobil model baru). Kebanyakan perusahaan otomotif selain memakai agen iklan untuk promosi produknya, juga mengontrak konsultan PR. Mereka menerapkan cara kerja yang berbeda dalam setiap peluncuran produk baru; misalnya, mereka memiliki database  para wartawan otomotif dan mengkategorikannya berdasarkan tingkat kredibilitasnya terhadap konsumen. Para jurnalis terpilih dibawa ke Singapura atau Jerman untuk uji-coba mobil baru, dan juga untuk menikmati perjalanan wisata, makanan dan berbagai perjamuan Baca lebih lanjut

Iklan

Atribut Merek dalam Proses Evaluasi Pembelian Konsumen

Merek hanyalah salah satu atribut produk yang dievaluasi konsumen saat membeli. Atribut lainnya adalah kemasan, harga, dan aspek-aspek instrinsik maupun ekstrinsik lainnya. Sebenarnya bagaimana peran merek dalam hirarki atribut? Pada akhirnya merek juga sebuah atribut dalam hirarki yang mesti ‘bersaing’ dengan atribut-atribut lain dalam merebut perhatian konsumen. Jika pemasar tidak melakukan apa-apa untuk membentuk makna merek di mata konsumen, maka merek mungkin saja akan menempati posisi lebih rendah dalam hirarki atribut. Merek semacam ini hanya punya sedikit makna bagi konsumen. Jadi, apabila pemasar ingin merek berperan penting dalam hirarki atribut, maka merek mesti dibuat bermakna di mata konsumen.

Nah, sebuah instrumen yang mesti dioptimalkan untuk membuat merek menjadi bermakna adalah komunikasi pemasaran (khususnya iklan). Baca lebih lanjut

Strategi Co-Branding

Dalam strategi co-branding, dua merek melakukan aliansi, misalnya, dengan melansir produk baru dengan menggabungkan dua merek (seperti Sonny-Erricson, Philips-Alessi). Dalam kasus ini ada merek

utama (header) dan merek penguat (modifier). Kategori produk dari produk co-brandinglah yang menentukan merek mana yang berfungsi sebagai header brand. Karena produk Philips-Alessi termasuk kategori peralatan (elektrik) rumah tangga, maka kaitannya lebih ke produk yang dihasilkan Philips (Alessi sendiri memproduksi asesoris dan peralatan nonelektrik). Jadi, Philips bisa dianggap sebagai header brand.

Co-branding adalah aliansi antara dua merek yang sengaja dibuat jelas di mata konsumen. Fokus co-branding adalah sinergi yang saling menguntungkan, baik kognitif, emosional Baca lebih lanjut

Positioning dan komunikasi pemasaran

Penentuan positioning merek biasanya dilakukan pada 2 dimensi, yakni: harga relatif  merek dan dimensi intrinsik (yang ditawarkan merek pada konsumen, baik dalam aspek- aspek material maupun imaterial). Pemasar bisa memilih antara ketiga strategi positioning harga berikut: strategi biaya rendah (low cost), premium dan prestis.

Kebijakan pricing atau penetapan harga bisa disesuaikan sesuai strategi masing-masing. Pada strategi biaya rendah, pemasar memilih bersaing dengan menawarkan harga serendah mungkin (ingat Asia Air). Sebaliknya, pada strategi pemium dan prestis, pemasar menghindari jor-joran persaingan harga dengan menawarkan produk yang tinggi maknanya di mata konsumen (lewat strategi diferensiasi); untuk harga prestis, derajat diferensiasinya bahkan sangat tinggi (baik dari aspek material maupun imaterial).

Baca lebih lanjut

Konsep Iklan setelah benefit tidak lagi menjadi faktor diferensiasi

Pesan iklan sudah semestinya bermula dari konsep produk yang kuat, karena memang biasanya yang dikomunikasikan dalam pesan iklan adalah benefit unik produk tersebut. Meskipun demikian seiring berjalannya waktu pemasar dapat saja merubah-rubah pesan iklan, khususnya apabila di mata konsumen benefit yang lama sudah tidak lagi dipersepsi sebagai faktor diferensiasi produk, dan pemasar ingin menggali benefit baru yang berbeda dari produk tersebut. Dalam konteks ini, faktor kreativitas menjadi penting.  

Personel kreatif biasanya menggunakan beberapa metode dalam upayanya menelorkan appeal iklan. Dengan mewawancarai pelanggan, dealer, pakar dan bahkan pesaing, pekerja kreatif mampu mengira-ngira Baca lebih lanjut

Efektivitas Pesan dalam Komunikasi Pemasaran

Komunikasi pemasaran senjata ampuh para pemasar ? Ikuti ceritanya..  Rony adalah tipikal konsumen di kota besar yang kerap terekspos komunikasi pemasaran. Setelah melewati hari yang melelahkan, dia menyandarkan tubuh di sofanya yang nyaman sambil menyeruput capuccino. Dia merengkuh remote control, menyalakan tevenya dan tak sengaja terhenti pada ‘infomercial’ tayangan tengah malam. Selama 30 menit berikutnya Rony menyaksikan si pembawa acara dan audiens memuji-muji kehebatan sebuah cairan pembersih ajaib, yang bisa dipakaikan ke mobil, perangkat elektronik, perabot rumah tangga, dan mebel serta mampu menyulapnya menjadi kinclong. Produk langsung diujicobakan dengan beragam cara, diperbandingkan dengan produk pesaing, penonton boleh mencobanya langsung, dan akhirnya di akhir acara, setelah pemirsa dibuat penasaran baru harganya diumumkan dengan cara yang sedikit dramatis. Pembawa acara dengan gayanya yang sangat persuasif mengumumkan tawaran khusus terbatas dengan harga istimewa plus satu paket asesoris gratis. Tanpa berpikir panjang, Rony memutuskan memutar nomer telepon bebas pulsa yang sempat dicatatnya setelah sebelumnya mencabut kartu kredit dari dompetnya. Kasus di atas contoh pesan yang efektif dalam komunikasi pemasaran. Baca lebih lanjut

Strategi Merek Berharga Murah Tidak Perlu Diferensiasi

Selalu kita diwanti-wanti dalam hal positioning, setiap merek harus bisa dibedakan dari merek lain. Namun perlu diingat diferensiasi butuh investasi besar (dalam komunikasi pemasaran). Sementara  bagi pemasar yang memilih strategi biaya rendah tidak tersedia cukup anggaran buat komunikasi pemasaran, sehingga diferensiasi justru tidak disarankan. Untuk memikat konsumen pada merek dengan strategi biaya rendah, pemasar sebaiknya mengadopsi atribut-atribut intrinsik produk yang sudah terbukti sukses dengan strategi premium atau prestis. Jadi, strategi biaya rendah justru memilih kebalikan diferensiasi: identifikasi.

Baca lebih lanjut