Konsep pemasaran

Konsep-konsep teori yang rumit terkadang bisa diperikan secara sederhana lewat gambar. Berikut ini serangkaian konsep pemasaran seperti marketing, telemarketing, public relations, advertising, graphic design dan branding yang digambarkan dengan simpel sekaligus menghibur, sehingga bisa juga dimanfaatkan untuk membuat presentasi anda lebih ‘nendang. Harapannya diskusi selewat tampilan slide-slide hasil coretan ZAG ini akan menjadi lebih hidup.

Konsep Iklan setelah benefit tidak lagi menjadi faktor diferensiasi

Pesan iklan sudah semestinya bermula dari konsep produk yang kuat, karena memang biasanya yang dikomunikasikan dalam pesan iklan adalah benefit unik produk tersebut. Meskipun demikian seiring berjalannya waktu pemasar dapat saja merubah-rubah pesan iklan, khususnya apabila di mata konsumen benefit yang lama sudah tidak lagi dipersepsi sebagai faktor diferensiasi produk, dan pemasar ingin menggali benefit baru yang berbeda dari produk tersebut. Dalam konteks ini, faktor kreativitas menjadi penting.  

Personel kreatif biasanya menggunakan beberapa metode dalam upayanya menelorkan appeal iklan. Dengan mewawancarai pelanggan, dealer, pakar dan bahkan pesaing, pekerja kreatif mampu mengira-ngira Baca lebih lanjut

Strategi Ekstensi Merek untuk membangun portofolio merek

Strategi merek yang sukses membuat penetrasi ke berbagai pasar lebih mudah dilakukan. Strategi ekstensi dan strategi endorsemen adalah dua strategi merek yang mencoba untuk memanfaatkan kapitalisasi nama merek yang sudah ada. Di antara merek-merek yang terbilang sukses di Amerika, konon tidak kurang dari 66% lahir dari perluasan lini atau merek. Sebuah riset menyimpulkan bahwa asalkan pesan komunikasi pemasarannya tepat, efektivitas iklan berpeluang lebih besar bagi merek hasil ekstensi ketimbang peluncuran merek yang sepenuhnya baru.

Baca lebih lanjut

Sensitivitas Merek

Banyak mahasiswa yang sedang belajar pemasaran mungkin terkesima dengan promosi gencar yang diluncurkan Gulaku. Selama ini mereka belajar bahwa produk komoditas seperti gula tidak memerlukan strategi atau manajemen merek. Penulis juga teringat perdebatan di kampus kala masih mahasiswa tentang masalah seputar sensitivitas merek.

Di pasar kita mendapati belasan, bahkan puluhan, merek shampo, deterjen, atau pasta gigi. Bahkan khusus untuk produk rokok, kini di pasar mungkin bisa kita temui ratusan merek. Namun di kategori buah, sayuran dan daging tak banyak kita temui produk bermerek

Baca lebih lanjut

Ekuitas Merek

Kendati perannya telah terhitung sejak lama, namun baru pada abad 20 merek dan asosiasi merek menjadi begitu penting bagi pemasar. Bisa dikatakan pemasaran modern diwarnai oleh penciptaan berbagai merek. Pemasar saat itu mulai mengandalkan riset untuk membantu mereka merumuskan dan mengembangkan basis diferensiasi merek. Penggunaan atribut, nama, kemasan, strategi distribusi, dan iklan diyakini bisa menancapkan asosiasi merek yang unik di benak pelanggan. Sejak saat itu, terjadi pergeseran besar-besaran dari komoditas menjadi produk bermerek. Alhasil dalam membeli sebuah produk, konsumen tidak lagi sekedar berpatokan pada tinggi rendahnya harga, namun lebih melihat basis diferensiasi merek. Sejak itu pertumbuhan merek baru makin bertumbuh pesat. Ribuan merek baru dilansir tiap tahunnya.
Nah, kini kita tahu beda antara merek dan produk, namun tahukah anda bahwa perlu waktu berpuluh tahun untuk menyadari perbedaan ini secara eksplisit dalam ilmu pemasaran? Baca lebih lanjut