Ambang Batas Inderawi dalam menata persepsi

 

Kemampuan pikiran kita untuk menata persepsi ada batasnya. Inilah yang disebut sebagai ambang batas inderawi (sensory threshold). Masalah yang ada di sini adalah bahwa meskipun ada banyak pesan, namun pikiran kita tidak mampu menampung semua input indrawi. Daya pendengaran atau penglihatan kitasensorykadang tidak setajam binatang. Dalam konteks berbeda kita sudah bahas implikasinya, yaitu dalam pesan subliminal. Jika pesan berada di bawah sensory threshold kita, maka meski pesan itu tidak diterima secara ‘sadar’ namun masih mungkin diterima secara ‘bawah sadar’. Pembaca ‘veteran’ bisa mengingat lagu-lagu (dalam putaran pertama saja) dalam album The Beatles berjudul Sergeant Pepper. Jika ada anjing dalam ruangan, maka lagu ini akan membuat anjing bersikap aneh karena meski tidak terdengar telinga manusia, peluit anjing yang ditiup polisi dalam album itu jelas terdengar oleh anjing!

Aplikasi pemasaran konsep Sensory Threshold antara lain dalam penggunaan pesan audio dari musik yang diputar di toko swalayan Baca lebih lanjut

Stimuli di dalam Toko merangsang kedatangan konsumen

Pemasar berupaya agar di dalam toko tersedia sebanyak-banyaknya stimuli yang mampu mempengaruhi kognisi, sikap dan perilaku belanja konsumen: cahaya, tingkat kebisingan, aroma, suhu, space antar rak dan display, sign, warna, barang dagangan yang ditata rapi, karakteritik pengunjung lain dan busana para tenaga penjual.

Tanda penunjuk dalam toko mengarahkan konsumen pada barang-barang tertentu dan memberitahu benefit produk dan informasi harga. Tanda penunjuk turut mempengaruhi kognisi konsumen (konsumen mengolah informasi tanda penunjuk secara berbeda) dan perilaku konsumen pada point of decision dan point of sale. Penjualan bisa saja meningkat karena penggunaan jenis tanda penunjuk tertentu.

Warna mempunyai dampak fisik dan psikologis pada persepsi konsumen terhadap lingkungan toko ritel. Warna dapat merangsang kedatangan konsumen dan juga potensi pembentukan kesan. Sebagai contoh, lingkungan warna yang hangat menggugah situasi pembelian yang terkait dengan pembelian tak terencana. Warna-warna dingin lebih cocok di saat konsumen memerlukan pertimbangan keputusan pembelian.
Baca lebih lanjut

Marketing Public Relations menjembatani Marketing dan Humas

Manajer pemasaran dan Humas tidak selalu sepakat. Manajer pemasaran lebih berorientasi laba atau angka penjualan, sementara praktisi humas melihat fungsi utamanya adalah menyiapkan dan menyebarkan komunikasi. Perbedaan ini kini terjembatani oleh penerapan marketing public relations (MPR) yang secara langsung mencoba mendukung promosi perusahaan atau produk serta pembentukan citra. Jadi MPR lebih berfungsi untuk mendukung program pemasaran, sehingga kegiatan-kegiatan MPR harus menjadi bagian atau dipadukan dengan program pemasaran. Misalnya, kegiatan MPR produsen rokok antara lain bertujuan menekan persepsi masyarakat bahwa rokok adalah musuh masyarakat.

Baca lebih lanjut

Mengubah Merek


         Ada tujuh alasan mengapa perusahaan harus mengubah nama merek. Alasan pertama adalah asosiasi nama merek yang berpotensi merugikan nilai merek. Satu contoh adalah merek Kentucky Fried Chicken. Di Amerika, fried diasosiasikan negatif dengan dampaknya atas kesehatan konsumen (umumnya, orang Amerika kini sadar kolesterol). Karena itulah rantai restoran ayam ini kini lebih sering memakai singkatan KFC ketimbang nama Kentucky Fried Chicken, sambil mencoba menghindari sebisa mungkin konotasi negatif kata ‘fried’.

            Pada contoh KFC, penekanannya lebih pada asosiasi nama merek itu sendiri.  Adapun alasan kedua perubahan nama merek yaitu terkait dengan asosiasi merek. Dalam hal ini, asosiasi merek material atau imaterial dipersepsi konsumen merugikan nilai merek itu. Kemungkinannya adalah merek bercitra lemah, sehingga merek rusak gara-gara publikasi negatif. Agar merek bercitra lebih bagus, re-framing asosiasi mungkin butuh banyak dana dan waktu lama. Perubahan nama merek bisa menjadi solusi; maka perubahan nama merek biasanya sekaligus juga bermakna perubahan positioning. Perubahan merek memberi ‘kehidupan kedua’ bagi merek yang menjadi korban publikasi negatif.

            Alasan ketiga mengubah nama merek adalah perbedaan nilai-tambah antar merek perusahaan yang sama (kesenjangan nilai ini biasanya terasa  pada familiaritas merek). Misalnya, dulu perusahaan Consolidated Foods (CFC) pernah mempunyai merek bernilai lebih tinggi ketimbang merek korporatnya sendiri; mungkin karena itulah CFC mengubah namanya menjadi Sara Lee. Mirip dengan itu,  pada tahun 1994 BSN mengubah namanya menjadi Danone. Baca lebih lanjut