BENEFIT: Revlon menjual Harapan

Saat membeli sesuatu, pembeli sebenarnya tak begitu peduli apa jenis barangnya, tetapi mereka lebihmemikirkan apa yang bisa mereka lakukan dengan barang tersebut. Jadi, alih-alih membeli fitur-fitur barangnya semata, mereka membeli benefit barang tersebut. Benefit ini harus terkait dengan kebutuhan, norma dan nilai-nilai mereka.

Charles Revlon dari Revlon Cosmetics sering berkata: “Di pabrik kami membuat sabun, namun di pasar kami menjual harapan”. Dengan kata lain, bukan kandungan fisik atau fitur produknya yang dibeli, tetapi apa yang bisa produk lakukan untuk konsumen dan benefit apa yang bisa mereka peroleh dari pembelian itu. Contoh lainnya adalah: “Kami membuat bor sebesar 8 mm, anda membeli lubang sebesar 8 mm” . Baca lebih lanjut

Iklan

Pemasaran kini makin etis dan berorientasi pada nilai

Pemasaran sebagai suatu fungsi manajemen kini menjadi lebih etis, berorientasi pada nilai, melebar, berorientasi pada pelestarian, fleksible dan antisipatoris. Konsep pemasaran kini diperluas sehingga mencakup tanggung jawab sosial perusahaan, yaitu perlunya organisasi bertanggung jawab pada masyarakat dalam melestarikan lingkungan dan untuk berkontribusi bagi kualitas hidup yang lebih baik bagi semua warga. Juga, karena konsumen kini makin sadar mutu, pemasaran penciptaan-nilai dan pemasaran bernilai-tambah akan menjadi pendekatan-pendekatan yang makin dominan.2003499885648802526_rs

Pendekatan-pendekatan ini mewakili suatu keseluruhan sistem di mana termasuk di dalamnya speed (kecepatan), comfort (kenyamanan) dan upaya obsesif terhadap kepuasan konsumen. Filosofi neo-marketing pada hakekatnya lebih konsumen-sentris. Dua kecenderungan terjadi sekaligus; segala sesuatu menjadi makin identik, namun Baca lebih lanjut

Strategi Co-Branding

Dalam strategi co-branding, dua merek melakukan aliansi, misalnya, dengan melansir produk baru dengan menggabungkan dua merek (seperti Sonny-Erricson, Philips-Alessi). Dalam kasus ini ada merek

utama (header) dan merek penguat (modifier). Kategori produk dari produk co-brandinglah yang menentukan merek mana yang berfungsi sebagai header brand. Karena produk Philips-Alessi termasuk kategori peralatan (elektrik) rumah tangga, maka kaitannya lebih ke produk yang dihasilkan Philips (Alessi sendiri memproduksi asesoris dan peralatan nonelektrik). Jadi, Philips bisa dianggap sebagai header brand.

Co-branding adalah aliansi antara dua merek yang sengaja dibuat jelas di mata konsumen. Fokus co-branding adalah sinergi yang saling menguntungkan, baik kognitif, emosional Baca lebih lanjut

Positioning dan komunikasi pemasaran

Penentuan positioning merek biasanya dilakukan pada 2 dimensi, yakni: harga relatif  merek dan dimensi intrinsik (yang ditawarkan merek pada konsumen, baik dalam aspek- aspek material maupun imaterial). Pemasar bisa memilih antara ketiga strategi positioning harga berikut: strategi biaya rendah (low cost), premium dan prestis.

Kebijakan pricing atau penetapan harga bisa disesuaikan sesuai strategi masing-masing. Pada strategi biaya rendah, pemasar memilih bersaing dengan menawarkan harga serendah mungkin (ingat Asia Air). Sebaliknya, pada strategi pemium dan prestis, pemasar menghindari jor-joran persaingan harga dengan menawarkan produk yang tinggi maknanya di mata konsumen (lewat strategi diferensiasi); untuk harga prestis, derajat diferensiasinya bahkan sangat tinggi (baik dari aspek material maupun imaterial).

Baca lebih lanjut

Riset Pasar langsung ke Komunitas Merek


Riset pasar tidak selalu dilakukan di belakang meja. Kasus HD sangat menarik. Suatu ketika manajemen Harley Davidson (HD) ingin mempelajari sejauh mana produk HD mewarnai hidup pelanggan mereka. HD lantas bekerja sama dengan para profesor marketing yang kemudian memutuskan bergabung ke HOG (Harley Owners Group) club, mendatangi sejumlah even, mengambil foto, mewawancarai anggota, dan berkelana mengendarai motor gede (moge) bersama kelompoknya.

Baca lebih lanjut

Strategi Endorsemen Merek

Sebagai alternatif dari strategi ekstensi, dalam mengeksploitasi nilai-nilai laten merek, pemasar bisa juga memilih strategi endorsemen. Bila dalam strategi ekstensi semua produk memiliki nama merek tunggal, maka dalam strategi endorsemen produk-produk baru diberi nama merek baru yang unik. Selain nama merek yang unik, dalam strategi endorsement produk baru juga disokong nama endorser (biasanya nama perusahaan, Unilever misalnya). Dalam strategi ini endorser memberi endorsemen, bentuk sokongan atau dukungan, yang bisa dianggap sebagai garansi atau rekomendasi. Baca lebih lanjut

Mengubah Merek


         Ada tujuh alasan mengapa perusahaan harus mengubah nama merek. Alasan pertama adalah asosiasi nama merek yang berpotensi merugikan nilai merek. Satu contoh adalah merek Kentucky Fried Chicken. Di Amerika, fried diasosiasikan negatif dengan dampaknya atas kesehatan konsumen (umumnya, orang Amerika kini sadar kolesterol). Karena itulah rantai restoran ayam ini kini lebih sering memakai singkatan KFC ketimbang nama Kentucky Fried Chicken, sambil mencoba menghindari sebisa mungkin konotasi negatif kata ‘fried’.

            Pada contoh KFC, penekanannya lebih pada asosiasi nama merek itu sendiri.  Adapun alasan kedua perubahan nama merek yaitu terkait dengan asosiasi merek. Dalam hal ini, asosiasi merek material atau imaterial dipersepsi konsumen merugikan nilai merek itu. Kemungkinannya adalah merek bercitra lemah, sehingga merek rusak gara-gara publikasi negatif. Agar merek bercitra lebih bagus, re-framing asosiasi mungkin butuh banyak dana dan waktu lama. Perubahan nama merek bisa menjadi solusi; maka perubahan nama merek biasanya sekaligus juga bermakna perubahan positioning. Perubahan merek memberi ‘kehidupan kedua’ bagi merek yang menjadi korban publikasi negatif.

            Alasan ketiga mengubah nama merek adalah perbedaan nilai-tambah antar merek perusahaan yang sama (kesenjangan nilai ini biasanya terasa  pada familiaritas merek). Misalnya, dulu perusahaan Consolidated Foods (CFC) pernah mempunyai merek bernilai lebih tinggi ketimbang merek korporatnya sendiri; mungkin karena itulah CFC mengubah namanya menjadi Sara Lee. Mirip dengan itu,  pada tahun 1994 BSN mengubah namanya menjadi Danone. Baca lebih lanjut