Kreativitas iklan untuk menembus fenomena ‘clutter’

Saat kita menyalakan televisi, bisa dipastikan kita akan melihat banyak iklan bersliweran di sana. Begitu pula dalam perjalanan pulang dari kantor, misalnya, mau-tak-mau kita melihat iklan-iklan bertebaran dipampang di pinggir atau di atas jalan, baik berbentuk papan iklan ataupun neonbox. Dalam lingkungan masyarakat modern, kita seakan terkepung oleh berbagai ‘pesan sponsor’ yang menyerang kita tanpa pandang bulu.

Namun begitulah, memang sudah menjadi tugas pemasar untuk terus-menerus berusaha menyemai dan memperkuat brand awareness dari produk-produk yang mereka tawarkan. Bila perlu, segala macam cara dan kiat mereka halalkan. Tak pelak lagi, pemasar yang smart kini memiliki berbagai ragam taktik promosi dan tak segan menerapkan taktik-taktik mereka dengan canggih untuk memaksimalkan dampak aktivitas komunikasi pemasaran.

Jajaran kreatif periklanan sendiri pada umumnya sepakat bahwa menayangkan iklan bagaikan upaya ‘mencuri’ sekotak kavling di benak konsumen

Baca lebih lanjut

Sasaran-sasaran Komunikasi Pemasaran

Strategi komunikasi pemasaran akan berdampak pada aspek kognitif, perilaku dan sikap konsumen. Maka, komunikasi pemasaran didesain guna meningkatkan 8 aspek berikut ini: kebutuhan kategori, awareness, pengetahuan, fasilitasi, niatan (intensi), dan struktur pengetahuan paska beli, yang kesemuanya merupakan sasaran-sasaran kognitif. Sikap dan kepuasan merupakan sasaran afektif. Perilaku jelas merupakan sasaran perilaku atau konatif.

1. Kebutuhan kategori (Categori Needs)
Kebutuhan kategori mengacu pada persepsi konsumen tentang kebutuhan yang bisa dipenuhi produk tertentu. Pada tahap awal daur hidup produk, kebutuhan kategori kerap menjadi tujuan. Pada tahap ini, konsumen lebih diedukasi manfaat produk, misalnya; suatu CD player interaktif, ketimbang merek-mereknya. Kampanye kolektif, misalnya yang mempromosikan asuransi jiwa, juga disasarkan pada kebutuhan kategori.
Baca lebih lanjut

KOMUNIKASI PEMASARAN TERPADU: Paradigma baru atau sekedar istilah baru?

Paradigma komunikasi yang selama ini dianut, yang hanya mementingkan upaya perusahaan memikat konsumen dengan mengandalkan iklan dan promosi semata mulai dipertanyakan banyak pihak.

Munculnya berbagai inovasi piranti komunikasi, pesan dan audiens memaksa perusahaan menoleh pada integrated marketing communications (IMC) atau Komunikasi Pemasaran Terpadu.

Baca lebih lanjut

Media Iklan dan Media Planner

Agar kriteria reach, frekuensi, dan dampak (impact) dapat diraih secara maksimal; pengiklan berusaha menemukan media yang paling efektif  untuk men-deliver pesan dalam jumlah exposure yang diinginkan kepada audiens sasaran.  Reach dipandang sangat penting untuk peluncuran produk baru, perluasan merek

 terkenal, flanker brand, atau merek yang frekuensi pembeliannya rendah, serta apabila pemasar membidik pasar sasaran yang luas. Sementara itu, frekuensi diutamakan apabila ada pesaing-pesaing yang kuat, ada cerita yang agak kompleks yang mesti disampaikan, resistensi konsumen yang tinggi, atau frekuensi pembelian produk tinggi.

Banyak pengiklan percaya bahwa audiens sasaran perlu dibombardir exposure iklan agar iklan bisa berdampak. Baca lebih lanjut

Konsep Iklan setelah benefit tidak lagi menjadi faktor diferensiasi

Pesan iklan sudah semestinya bermula dari konsep produk yang kuat, karena memang biasanya yang dikomunikasikan dalam pesan iklan adalah benefit unik produk tersebut. Meskipun demikian seiring berjalannya waktu pemasar dapat saja merubah-rubah pesan iklan, khususnya apabila di mata konsumen benefit yang lama sudah tidak lagi dipersepsi sebagai faktor diferensiasi produk, dan pemasar ingin menggali benefit baru yang berbeda dari produk tersebut. Dalam konteks ini, faktor kreativitas menjadi penting.  

Personel kreatif biasanya menggunakan beberapa metode dalam upayanya menelorkan appeal iklan. Dengan mewawancarai pelanggan, dealer, pakar dan bahkan pesaing, pekerja kreatif mampu mengira-ngira Baca lebih lanjut

Efektivitas Pesan dalam Komunikasi Pemasaran

Komunikasi pemasaran senjata ampuh para pemasar ? Ikuti ceritanya..  Rony adalah tipikal konsumen di kota besar yang kerap terekspos komunikasi pemasaran. Setelah melewati hari yang melelahkan, dia menyandarkan tubuh di sofanya yang nyaman sambil menyeruput capuccino. Dia merengkuh remote control, menyalakan tevenya dan tak sengaja terhenti pada ‘infomercial’ tayangan tengah malam. Selama 30 menit berikutnya Rony menyaksikan si pembawa acara dan audiens memuji-muji kehebatan sebuah cairan pembersih ajaib, yang bisa dipakaikan ke mobil, perangkat elektronik, perabot rumah tangga, dan mebel serta mampu menyulapnya menjadi kinclong. Produk langsung diujicobakan dengan beragam cara, diperbandingkan dengan produk pesaing, penonton boleh mencobanya langsung, dan akhirnya di akhir acara, setelah pemirsa dibuat penasaran baru harganya diumumkan dengan cara yang sedikit dramatis. Pembawa acara dengan gayanya yang sangat persuasif mengumumkan tawaran khusus terbatas dengan harga istimewa plus satu paket asesoris gratis. Tanpa berpikir panjang, Rony memutuskan memutar nomer telepon bebas pulsa yang sempat dicatatnya setelah sebelumnya mencabut kartu kredit dari dompetnya. Kasus di atas contoh pesan yang efektif dalam komunikasi pemasaran. Baca lebih lanjut

Merek Distributor atau Private Label

Ketika belanja di hyper market, boleh jadi Anda makin sering mendapati dan membeli produk-produk murah berlabelkan nama peritel atau yang biasa disebut private label? Biasanya kemasan memang sengaja dibuat agak sederhana dan itu lho … yang membuat banyak pembeli kesengsem: harganya yang jauh lebih murah ketimbang produk bermerek terkenal. Yuk, penulis ajak pembaca merunut asal-usul kehadirannya, terutama di belahan barat bumi yaitu di Eropa. Baca lebih lanjut