Wall’s di Indonesia, Streets di Australia

Masalah atau issu  dalam penggunaan strategi endorsement adalah standarisasi internasional. Beberapa contoh menunjukkan bahwa saat nama-nama merek terendors dibakukan di berbagai negara, maka merek endorser bisa berbeda. 

Ada beberapa merek es krim dari Unilever, misalnya. Merek Carte d’Or, Magnum, Solero dan Viennetta memiliki level standarisasi yang sangat tinggi di berbagai negara. Namun, nama endorser yang dipakai Unilever untuk merek-merek es krim ini bervariasi di berbagai negara (lihat Tabel). Baca lebih lanjut

Pembajakan merugikan merek asli

Bukti lain merek mampu merepresentasikan nilai finansial adalah pembajakan (counterfeiting) dalam skala besar. Dalam kasus pembajakan merek, nama merek terkenal dipakai pabrikan lain secara ilegal. Pembajakan merek menyebabkan kerugian finansial bagi pemilik sah merek itu. Konon total nilai  perdagangan produk atau barang bajakan telah mencapai $ 120 – $ 180 milyar setahunnya (mendekati 3 – 5 % nilai perdagangan dunia). Pembajakan tak hanya terbatas pada parfum, makanan, sepatu, arloji dan minuman beralkohol; namun juga merambah pula pasar obat-obatan dan suku-cadang palsu untuk pesawat dan pembangkit tenaga nuklir.

Ungkapan Michael Perry dari Unilever secara jenaka menggambarkan masalah merek bajakan. ‘Tak masalah kalau saya mesti duduk di satu meja dengan pesaing, tapi saya tak terima kalau mereka makan dari piring saya.’

 

Baca lebih lanjut

Merek diganti karena kesal pada Maradona

Volkswagen terpaksa merubah nama model baru hanya beberapa saat sebelum peluncuran mobilnya dari Diago ke Vento, karena di Inggris saat itu banyak orang lagi kesal dengan Diego Maradona terkait dengan gol kontroversialnya di Piala Dunia sehingga Inggris tersisih di final.

Di Perancis, merek Toyota MR2 diganti menjadi MR saja, lantaran MR2 dibaca ‘merdeux’ yang artinya penuh kotoran manusia. Di Inggris merek deodoran Axe dari Unilever diganti namanya jadi Lynx, karena nama Axe memicu terlalu banyak asosiasi negatif (yaitu senjata mematikan).
Baca lebih lanjut

Strategi Endorsemen Merek

Sebagai alternatif dari strategi ekstensi, dalam mengeksploitasi nilai-nilai laten merek, pemasar bisa juga memilih strategi endorsemen. Bila dalam strategi ekstensi semua produk memiliki nama merek tunggal, maka dalam strategi endorsemen produk-produk baru diberi nama merek baru yang unik. Selain nama merek yang unik, dalam strategi endorsement produk baru juga disokong nama endorser (biasanya nama perusahaan, Unilever misalnya). Dalam strategi ini endorser memberi endorsemen, bentuk sokongan atau dukungan, yang bisa dianggap sebagai garansi atau rekomendasi. Baca lebih lanjut