Jusuf Kalla bergirang hati bahwa elektabilitasnya terus meningkat sekitar 0,5 persen tiap harinya. “Trend pasangan JK-Wiranto sangat bagus, hampir naik 0,5 persen per hari, berarti bisa naik dari angka 15 lagi dari angka sekarang,” kata JK saat membuka Silaturahmi Nasional II Dewan Penasihat Golkar di Jakarta, beberapa hari yang lalu.
Adalah hasil kerja kerasnya setelah mendeklarasikan capres dan kampanye ke berbagai daerah sebagai alasan di balik lonjakan elektabilitas tersebut. “Kami paling rajin memberi penjelasan pada masyarakat serta menghadiri undangan masyarakat memberikan penjelasan. Kalau pemimpin tidak bisa menjelaskan, artinya dia tidak bisa dipercaya,” demikian JK yang berharap seluruh kader beringin jangan memiliki sikap kalah sebelum bertanding. Baca Lanjutannya…
Juni 13, 2009
Kategori: IMC, Komunikasi Politik, strategi . Yang berkaitan: rbandwagon effect, pilpres 2009, strategi JK-Wiranto . Penulis: uyungs . Komentar: 3 Tanggapan
Rakyat kecil yang ingin tahu tidak melewatkan kesempatan untuk bertemu langsung dengan sosok cawapres Boediono saat melakukan kunjungan di Pasar Inpres Jelambar Grogol, Jakarta Barat pekan lalu. Masyarakat sekitar Jelambar itu berdesak-desakan dan ikut mengantar Boediono mengunjungi para pedagang pasar. Dalam kesempatan tersebut, Boediono juga sempat bercengkerama dengan ibu-ibu. Selain menggendong sejumlah anak-anak, Boediono juga mengelus perut seorang ibu hamil atas permintaan si ibu. Baca Lanjutannya…
Juni 10, 2009
Kategori: IMC, Komunikasi Politik . Yang berkaitan: rBoediono, Komunikasi Politik, strategi pemenangan, Susilo Bambang Yudhoyono . Penulis: uyungs . Komentar: 1 Tanggapan
Dunia komunkasi pemasaran saat ini makin diwarnai dengan fenomena clutter. Konon seseorang yang hidup di kota besar dalam rentang waktu 24 jam rata-rata terpapar tidak kurang dari seribu bentuk stimuli. Begitu banyak iklan, banner, spanduk, baliho, poster, brosur, stiker, dll. yang kita lihat, dengar dan kita terima baik secara sukarela maupun tidak, baik secara sadar maupun tidak sadar, membuat kita merasa kewalahan, kebebanan (overload)
dan bingung. Akhirnya terpaksa berlaku semacam proses seleksi, mana-mana yang dalam persepsi kita terlihat menarik, relevan sekaligus tidak lazim akan lebih mencuri perhatian dan akan mempengaruhi preferensi merek. Iklan televisi yang kerap ditayangkan namun biasa-biasa saja, misalnya, akan luput dari radar kita, akan diabaikan, tidak meninggalkan kesan atau jejak apa-apa, ’masuk telinga kiri keluar telinga kanan’. Jadi faktor frekuensi kadang tidak banyak berdampak kalau iklan tidak dieksekusi dengan baik. Padahal, meskipun televisi diakui salah satu media beriklan yang paling efektif, namun televisi merupakan media yang paling mahal untuk beriklan.
Baca Lanjutannya…
Januari 12, 2009
Kategori: Pemasaran . . Penulis: uyungs . Komentar: 7 Tanggapan