POSITIONING: Informasional atau Transformasional

Positioning adalah unsur ketiga dari strategi STP (Segmentation, Targeting, dan Positioning), di mana pemasar mencoba memutuskan posisi produk di pasar yang hendak disasar. Pemasar menjelaskan pada konsumen dan mencoba menancapkannya di benak mereka tentang keunggulan produk dan bagaimana keunikannya dibandingkan produk pesaing.

layanan SIA

layanan mewah SIA

Misalnya, Canon diposisikan pada pasar fotokopi dengan menonjolkan differential advantage dalam kemampuannya mengcopy dengan volume tinggi, pengoperasian berbiaya rendah, dan keandalannya. Masakapai Lion Air dan Asia Air, misalnya, diposisikan dalam segmen bisnis perjalanan udara dengan penetapan harga yang sangat terjangkau dan layanan penerbangan cukup baik.

 

Baca lebih lanjut

Iklan

Anggaran Iklan dan Komunikasi Pemasaran

Sebelumnya telah kita bahas perbedaan peran nama merek dan kemasan dalam proses pengembangan merek. Nama merek bisa berfungsi sesuai prinsip Joyce dan Juliet, sementara dalam hal kemasan ada pembedaan antara peran aktif dan peran pasif. Bila anggaran komunikasi pemasaran kecil, nama merek akan menuruti prinsip Joyce. Di sini makna intrinsik nama merek amat relevan, yang berarti citra merek sangat mengandalkan asosiasi-asosiasi yang dibangkitkan nama merek itu. Namun bila tersedia anggaran komunikasi pemasaran yang besar, nama merek lebih condong menuruti prinsip Juliet. Dalam hal ini citra merek tidak begitu ditentukan makna merek itu, tapi seiring berjalannya waktu nama merek akan membangkitkan asosiasi-asosiasi di benak konsumen hasil dari stimulasi iklan. Karena itu dengan anggaran iklan besar, pemasar bisa memilih nama merek yang tidak mengacu pada produk atau pengalaman konsumsi yang terkait dengannya.

Icetea

Icetea

Besarnya anggaran komunikasi pemasaran menentukan sejauh mana merek bisa berperan sebagai simbol atau sinyal (dalam hal anggaran rendah, nama merek lebih baik berperan sebagai simbol). Bila anggaran komunikasi pemasaran kecil, pilihan nama yang memadai amatlah vital. Dengan anggaran besar, melalui iklan, asosiasi negatif yang mungkin melekat pada nama merek itu sendiri bisa diredam atau bahkan dilenyapkan. Bila perusahaan mengalokasikan anggaran komunikasi pemasaran yang besar, lebih mungkin dipilih strategi merek multilitik ketimbang strategi merek dualitik atau monolitik. Baca lebih lanjut

KOMUNIKASI POLITIK OBAMA

Barack Obama terpilih sebagai Marketer of the Year  2008 dari Ad Age mengalahkan merek-merek terkenal seperti Apple dan Nike. Betapa tidak? Sejumlah jajak pendapat hingga dua minggu menjelang pemungutan suara mengunggulkan Barack Obama sebagai pemenang pilcapres Amerika Serikat 2008. Koran-koran terkenal bahkan sudah merilis tajuk rencana yang mendukung Obama sebagai kandidat presiden yang paling tepat untuk mengurai kekusutan masalah, baik ekonomi maupun geopoltik, yang kini mengancam AS ke tubir jurang resesi ekonomi.

Kemenangan Obama hingga sampai pada tahap ini banyak dinilai sebagai kemenangan komunikasi politik Baca lebih lanjut

Apalah arti sebuah nama merek?

Nama merek rokok kalau dipikir-pikir lucu-lucu ya? Ada merek rokok Jarum, Jagung, Jambu Bol, Kerbau, Gudang Garam (apa hubungannya rokok dengan garam hayoo?), Grendel (kok gak sekalian dikasih nama Gembok saja?)

Nama merek menurut teorinya bisa menimbulkan dua asosiasi dalam benak konsumen, yaitu asosiasi tentang nama itu sendiri (terlepas dari merek yang diberi nama) dan asosiasi-asosiasi yang dipelajari konsumen untuk dikaitkan dengan nama merek itu dalam penggunaannya sebagai nama merek. Dalam pilihan nama merek, pemasar umumnya menyetujui atau menolak sebuah nama atas dasar asosiasi yang ditimbulkan nama tersebut saat itu. Katakanlah pemasar memberi nama komputer yang akan dilansirnya ke pasar dengan nama Kangaroo, maka asosiasi yang dibangkitkan nama ini tidak cocok dipakai untuk komputer daripada Laser, misalnya. Nama Laser menerbitkan asosiasi pada teknologi moderen dan tidak menyimpang dari citra konsumen mengenai komputer pada umumnya. Baca lebih lanjut

Positioning dan komunikasi pemasaran

Penentuan positioning merek biasanya dilakukan pada 2 dimensi, yakni: harga relatif  merek dan dimensi intrinsik (yang ditawarkan merek pada konsumen, baik dalam aspek- aspek material maupun imaterial). Pemasar bisa memilih antara ketiga strategi positioning harga berikut: strategi biaya rendah (low cost), premium dan prestis.

Kebijakan pricing atau penetapan harga bisa disesuaikan sesuai strategi masing-masing. Pada strategi biaya rendah, pemasar memilih bersaing dengan menawarkan harga serendah mungkin (ingat Asia Air). Sebaliknya, pada strategi pemium dan prestis, pemasar menghindari jor-joran persaingan harga dengan menawarkan produk yang tinggi maknanya di mata konsumen (lewat strategi diferensiasi); untuk harga prestis, derajat diferensiasinya bahkan sangat tinggi (baik dari aspek material maupun imaterial).

Baca lebih lanjut

Memulihkan Kepercayaan terhadap Merek

Komitmen perusahaan sangat krusial dalam mendengar dan merespon suara konsumen. . Diharapkan dengan kesungguhan upaya itu tumbuh kepercayaan pelanggan pada kejujuran, integritas, dan keandalan merek. Kepercayaan atau trust tersebut cerminan dari rasa aman pada diri pelanggan karena mereka yakin bahwa merek yang mereka pilih serta experiential process yang mereka jalani akan memenuhi ekspektasi mereka. Pemasar tidak bisa lagi mengambil resiko kehilangan sejumlah pelanggan hanya lantaran ketidakpuasan pelanggan diabaikan. Lebih baik perusahaan mengorbankan uang yang relatif sedikit untuk mengkompensasikan kekecewaan konsumen tersebut melalui program service recovery atau win-back marketing program. Tidak sekedar dengan merespon komplain, namun terutama juga penanganan pada saat-saat kritis.

Di Amerika, pernah terjadi bencana pada merek tertentu yang malah membuat kepercayaan konsumen justru makin terdongkrak. Baca lebih lanjut

Diferensiasi Merk

Menyambung pertanyaan tentang sensitivitas merek, pertanyaan berikutnya adalah: Apakah diferensiasi bersifat istimewa? Kita lihat sebagai akibat dari makin melubernya merek, pemasar kini makin sulit menemukan basis nyata diferensiasi produk. Sekarang ini, misalnya, ada lebih dari 100 merek rokok. Hampir tak mungkin pemasar menerapkan diferensiasi pada masing-masing merek berdasarkan jenis, rasa tembakau, atau jenis kertas yang digunakan. Menurut riset, rata-rata lebih dari 50% jumlah konsumen hanya tahu sedikit atau bahkan merasa tidak ada perbedaan antar merek di kategori produk tertentu (sejauh mana konsumen menganggap produk sebagai barang identik disebut sebagai level of brand parity).

Nah, apabila diferensiasi berdasar aspek-aspek material sulit dilakukan, maka jalan keluarnya adalah diferensiasi pada aspek-aspek imaterial. Jenis diferensiasi ini biasanya dibuat dengan menciptakan dunia pengalaman tertentu di sekitar merek (misalnya Amild, ClassMild, Marlboro Country, Xmild dan UMild Baca lebih lanjut