Akuisisi untuk Membangun Portofolio Merek

Dibandingkan dengan pengembangan merek sendiri, akuisisi merek menawarkan cara cepat dalam membangun portofolio merek. Anda mungkin telah mengetahui merek-merek lokal yang telah diakuisisi oleh perusahaan multinasional tak kurang dari obat nyamuk Tiga Roda (Reckit Benckiser), saos tomat dan sambal ABC (oleh HJ Heinz), susu SGM (Royal Numico), air mineral Aqua (Danone), kecap cap Bango, teh Sariwangi dan makanan kudapan Taro (Unilever), biskuit Helios dan Nyam-Nyam (Arnott’s/Campbell). Baca lebih lanjut

Iklan

Strategi Endorsemen Merek

Sebagai alternatif dari strategi ekstensi, dalam mengeksploitasi nilai-nilai laten merek, pemasar bisa juga memilih strategi endorsemen. Bila dalam strategi ekstensi semua produk memiliki nama merek tunggal, maka dalam strategi endorsemen produk-produk baru diberi nama merek baru yang unik. Selain nama merek yang unik, dalam strategi endorsement produk baru juga disokong nama endorser (biasanya nama perusahaan, Unilever misalnya). Dalam strategi ini endorser memberi endorsemen, bentuk sokongan atau dukungan, yang bisa dianggap sebagai garansi atau rekomendasi. Baca lebih lanjut

Mengubah Merek


         Ada tujuh alasan mengapa perusahaan harus mengubah nama merek. Alasan pertama adalah asosiasi nama merek yang berpotensi merugikan nilai merek. Satu contoh adalah merek Kentucky Fried Chicken. Di Amerika, fried diasosiasikan negatif dengan dampaknya atas kesehatan konsumen (umumnya, orang Amerika kini sadar kolesterol). Karena itulah rantai restoran ayam ini kini lebih sering memakai singkatan KFC ketimbang nama Kentucky Fried Chicken, sambil mencoba menghindari sebisa mungkin konotasi negatif kata ‘fried’.

            Pada contoh KFC, penekanannya lebih pada asosiasi nama merek itu sendiri.  Adapun alasan kedua perubahan nama merek yaitu terkait dengan asosiasi merek. Dalam hal ini, asosiasi merek material atau imaterial dipersepsi konsumen merugikan nilai merek itu. Kemungkinannya adalah merek bercitra lemah, sehingga merek rusak gara-gara publikasi negatif. Agar merek bercitra lebih bagus, re-framing asosiasi mungkin butuh banyak dana dan waktu lama. Perubahan nama merek bisa menjadi solusi; maka perubahan nama merek biasanya sekaligus juga bermakna perubahan positioning. Perubahan merek memberi ‘kehidupan kedua’ bagi merek yang menjadi korban publikasi negatif.

            Alasan ketiga mengubah nama merek adalah perbedaan nilai-tambah antar merek perusahaan yang sama (kesenjangan nilai ini biasanya terasa  pada familiaritas merek). Misalnya, dulu perusahaan Consolidated Foods (CFC) pernah mempunyai merek bernilai lebih tinggi ketimbang merek korporatnya sendiri; mungkin karena itulah CFC mengubah namanya menjadi Sara Lee. Mirip dengan itu,  pada tahun 1994 BSN mengubah namanya menjadi Danone. Baca lebih lanjut