Seribu stimuli dalam sehari

Dunia komunkasi pemasaran saat ini makin diwarnai dengan fenomena clutter. Konon seseorang yang hidup di kota besar dalam rentang waktu 24 jam rata-rata terpapar tidak kurang dari seribu bentuk stimuli. Begitu banyak iklan, banner, spanduk, baliho, poster, brosur, stiker, dll. yang kita lihat, dengar dan kita terima baik secara sukarela maupun tidak, baik secara sadar maupun tidak sadar, membuat kita merasa kewalahan, kebebanan (overload) dan bingung. Akhirnya terpaksa berlaku semacam proses seleksi, mana-mana yang dalam persepsi kita terlihat menarik, relevan sekaligus tidak lazim akan lebih mencuri perhatian dan akan mempengaruhi preferensi merek.  Iklan televisi yang kerap ditayangkan namun biasa-biasa saja, misalnya, akan luput dari radar kita, akan diabaikan, tidak meninggalkan kesan atau jejak apa-apa, ’masuk telinga kiri keluar telinga kanan’. Jadi faktor frekuensi kadang tidak banyak berdampak kalau iklan tidak dieksekusi dengan baik. Padahal, meskipun televisi diakui salah satu media beriklan yang paling efektif, namun televisi merupakan media yang paling mahal untuk beriklan.

Baca lebih lanjut

Empat unsur bauran komunikasi pemasaran konvensional

Para pelaku pasar sudah jamak menyampaikan informasi produk dan berupaya membujuk konsumen agar mau membeli produk. Pada hakekatnya, komunikasi pemasaran mengandalkan stimuli lingkungan yang sengaja dirancang untuk mempengaruhi kognisi, sikap dan perilaku

iklan kontroversial

iklan kontroversial

 konsumen. Bagi pemasar modern, instrumen utama komunikasi pemasaran mestinya tidak terbatas pada iklan, promosi penjualan, personal selling, dan publisitas (Marketing-PR) saja, namun juga termasuk sponsorship, komunikasi dalam-toko, pemasaran langsung, dan trade shows serta pameran niaga. Kombinasi instrumen membentuk bauran komunikasi pemasaran (marketing-communication mix). Hampir semua produk dan merek sukses perlu komunikasi pemasaran guna menciptakan keunggulan diferensial yang langgeng atas pesaingnya. Dengan kampanye komunikasi, pemasar menginformasikan atribut produk, harga dan lokasi tersedianya produk. Informasi ini menghemat waktu maupun uang konsumen yaitu dengan mengurangi biaya pencarian mereka.

Iklan

Iklan adalah penyajian informasi non-personal tentang produk, merek, perusahaan atau gerai yang didanai sponsor. Iklan bertujuan mempengaruhi citra, keyakinan, dan sikap konsumen terhadap produk dan merek, serta perilaku konsumen. Bahkan, iklan bisa dianggap manajemen citra, yakni menciptakan dan menancapkan citra serta makna-makna di benak Baca lebih lanjut

Wall’s di Indonesia, Streets di Australia

Masalah atau issu  dalam penggunaan strategi endorsement adalah standarisasi internasional. Beberapa contoh menunjukkan bahwa saat nama-nama merek terendors dibakukan di berbagai negara, maka merek endorser bisa berbeda. 

Ada beberapa merek es krim dari Unilever, misalnya. Merek Carte d’Or, Magnum, Solero dan Viennetta memiliki level standarisasi yang sangat tinggi di berbagai negara. Namun, nama endorser yang dipakai Unilever untuk merek-merek es krim ini bervariasi di berbagai negara (lihat Tabel). Baca lebih lanjut

Brand Usage dan Brand Loyalty

Menyangkut penggunaan merek dan loyalitas merek, sejumlah segmen bisa dibedakan: brand-loyal user (pemakai loyal merek tertentu), brand switcher (pemakai yang suka ganti-ganti merek), pemakai baru dan bukan pemakai.shopaholic Baca lebih lanjut

Iklan dan Kenyataannya tidak selalu sama?

Sudah menjadi tugas pembuat iklan dan tim kreatifnya untuk membuat iklan yang berkesan dan mampu menimbulkan dampak ‘arousal’ semaksimal mungkin. Namun bagaimana kalau antara iklan dan kenyataannya tidak sama?

Contoh berikut mungkin bisa berbicara banyak:

iklan yang spektakuleriklan yang spektakuler

Baca lebih lanjut

Keterlibatan Konsumen (Involvement)

Pendekatan berdasar motivasi kini makin diperluas oleh

penelitian pemasaran yang menyangkut keterlibatan.  Bila motivasi menjelaskan dorongan internal yang terkait dengan kebutuhan seseorang, maka keterlibatan lebih didasarkan pada hubungan antara konsumen dengan sebuah kategori produk tertentu. Baca lebih lanjut

Bauran Pemasaran Jasa

Dua maskapai penerbangan, Southwest Airlines dari Amerika Serikat dan  Singapore Airlines dari Singapuramengikuti model proses penyediaan jasa yang bertolak belakang. Southwest tidak memberikan layanan ekstra (tanpa makan, tanpa nomor kursi), tanpa pembedaan layanan, menawarkan penerbangan murah untuk penerbangan domestik jarak dekat. Seluruh bukti yang ada menunjukkan konsistensinya pada visi dan positioning pasarnya.

layanan mewah SIA

layanan mewah SIA

 Sebaliknya Singapore Airlines, memfokuskan diri pada pelancong bisnis internasional dan dengan amat detil memperhatikan kebutuhan individual mereka. Jadi prosesnya benar-benar customized terhadap kebutuhan penumpang secara individual, sementara itu karyawan diberi wewenang untuk memberikan layanan ekstra di luar standar setiap saat diperlukan. Kedua maskapai penerbangan tersebut bisa dikatakan sukses.